Rabu, 29 Februari 2012

KECERDASAN JENIS LAIN

 
Bagi seorang pengamat iseng-iseng, Judy yang berumur empat tahun barangkali tampak seperti anak yang pendiam di antara teman-teman mainnya yang lebih suka bergaul. Ia hanya diam saja pada jam bermain, hanya berdiri di tepi lapangan melihat teman-temannya ikut bermain tetapi Judy hanya berdiam diri, tapi sebetulnya Judy adalah pengamat tajam politik sosial kawan-kawannya. Di taman kanak-kanak itu barangkali ia adalah murid yang paling luar biasa di antara teman-teman yang lainnya dalam segi pemahaman tentang gejolak perasaan diri  orang-orang di sekitarnya.
Kemampuan itu tidak tampa sampai guru Judy mengumpulkan murid-murid yang berumur empat tahun itu untuk bermain apa yang mereka sebut permainan sekolah-sekolahan. Permainan iu tiruan ruang kelas taman kanak-kanak tempat Judy bersekolah, dengan boneka-boneka lidi yang kepalanya di tempeli foto-foto mungil murid-murid dan para guru merupakan tes ketajaman pengamatan siswa. Ketika Judy diminta untuk menempatkan setiap anak di bagian ruangan yang paling mereka sukai yaitu bagian seni, bagian balok main dan selanjutnya Judy dapat melakukan dengan ketelitian yang sangat sempurna. Ketika diminta untuk menempatkan setiap anak berdekatan dengan anak-anak yang lain yang mereka sukai sebagai teman bermain, Judy memperlihatkan bahwa ia mampu menempatkan teman-temannya yang saling cocok untuk seluruh kelas itu.
Ketelitian Judy menunjukkan bahwa is memahami peta pergaulan yang sempurna tentang kelasnya, suatu tingkat kecermatan yang luar biasa bagi seorang anak yang berusia empat tahun. Ini adalah ketrampilan yang dalam kehidupan di masa datang barangkali memungkinkan bagi Judy untuk tumbuh menjadi bintang dalam setiap bidang yang menitik beratkan pada “kecakapan bergaul”, mulai dari penjualan, manajemen hingga diplomasi.
Sumber [Emotional Intelligence by Daniel Goleman]
KAPAN YANG PINTAR ITU BODOH


Alasan sesungguhnya mengapa David Pologruto yaitu seorang guru fisika sekolah menengah ditusuk dengan sebilah pisau dapur oleh salah seorang siswa terpandai di sekolah tersebut adalah hal yang masih di perdebatkan. Tetapi fakta yang dilaporkan pada umumnya adalah sebaigai berikut :
Jason, yaitu siswa kelas dua yang nilainya selalu A di SMU Coral Springs (Florida) bercita-cita masuk fakultas kedokteran. Bukan hanya sekedar fakultas kedokeran, ia memimpikan dapat masuk fakultas kedokteran di Harvar.
Tetapi pologruto yaitu guru fisika di sekolahnya memberi Jason nilai 80 pada sebuah tes, karena yakin bahwa nilai tersebut hanya akan memberikan nilai B yang akan menghalangi cita-citanya untuk masuk ke Harvard, Jason mengambil sebilah pisau dapur ke sekolah dan, dalam suatu pertengkaran denganPologruto di lab. Fisika ia menusuk gurunya di tulang selangka sebelum dapat ditangkap dengan susah payah.
Hakim memutuskan bahwa Jason tidak bersalah karena pada saat itu ia di anggap gila untuk sementara salama peristiwa tersebut, sebuah panel terdiri atas empat psikolog dan psikiater bersumpah bahwa ia gila pada saat perkelahian itu berlangsung, Jason mengatakan bahwa ia telah berencana bunuh diri karena nilai tes tersebut dan akan menemui gurunya untuk mengatakan kepadanya bahwa ia akan bunuh diri karena nilai yang buruk itu.
Tetapi Pologruto menyampaikan cerita yang berbeda : “saya rasa ia betul betul mencoba membunuh saya dengan pisau itu” karena ia amat marah atas nilai tersebut.
Setelah pindah ke sekolah swasta, Jason lulus dua tahun kemudian sebagai juara kelas. Nilai sempurna dari kelas reguler akan membberinya angka A bulat, rata-rata 4,0 tetapi karena Jason telah cukup banyak mengikuti kursus lanjutan maka nilai rata-ratanya menjadi 4,614 yaitu jauh diatas A+.
Meskipun Jason lulus dengan nilai terbaik guru fisikanya yang lama yaitu David Pologruto mengeluh, bahwa Jason karena Jason tak pernah minta maaf atau mau bertanggung jawab atas penusukan yg pernah Jason lakukan kepada Pologruto.
Masalahnya adalah, bagaimana mungkin seorang yang jelas-jelas cerdas melakukan sesuatu yang demikian tak rasional, sesuatu yang betul-betul bodoh? Jawabannya adalah : “kecerdasan akademik sedikit saja kaitannya dengan kehidupan emosional”. Yang paling cerdas diantara kita adapat terperosok ke dalam nafsu tak terkendali dan impuls yang meledak-ledak, orang yang Iqnya tinggi dapat menjadi pilot yang tak cakap dalam kehidupan pribani mereka sendiri.


Salah satu rahasia psikolag yang telah menjadi makanan umum adalah ketidakmampuan relatif nilai-nilai IQ atau nilai SAT (School Aptitude Test / Tes Bakat) kendati daya tarik tes-tes tersebut amat besar untuk meramalkan dengan rapat siapa-siapa yang akan berhasil dalam kehidupan. Yang jelas ada suatu kaitan antara IQ dengan lingkungan tempat tinggal bagi kelompok-kelompok besar secara keseluruhan.
Banyak orang ber-IQ amat rendah tapi pada akirnya mendapat pekerjaan-pekerjaan kasar dan orang-orang ber-IQ tinggi cenderung menjadi pegawai bergaji besar, tetapi tidak selalu demikian. Ada banyak pengecualian terhadap pemikiran yang menyatakan bahwa Iqmeramalkan kesuksesan, banyak atau lebih banyak perkecualian daripada kasus yang cocok dengan pemikiran itu. Setinggi-tingginya IQ hanya menyumbang kira-kira 20% bagi faktor-faktor yang menentukan kesuksesan dalam hidup, maka yang 80% diisi oleh kekuatan–kekuatan lain. Seorang pengamat menyatakan “status akhir seseorang dalam masyarakat pada umumnya ditentukan oleh fakto-faktor bukan karena IQ melainkan kelas sosial hingga nasib baik”.
Bahkan Richard Herrnstein dan Charles Murray yang dalam bukunya The Bell Curve menaruh bobot penting pada IQ, mmengakui hal ini seperti yang mereka utarakan “Barangkali seorang mahasiswa tingkat satu dengan nilai matematika 500 pada SAT, lebih baik tidak memutuskan untuk menjadi ahli matematika, tetapi sebagai gantinya menjalankan usaha sendiri atau menjadi senator Amerika Serikat. Ia sebaiknya tidak menjadi mengesampingkan impian-impian itu . . . kaitan antara nilai tes dan tingkat prestasi menjadi sempit mengingat keseluruhan ciri-ciri lain yang dibawanya dalam kehidupan”.
Sumber [Emotional Intelligence by Daniel Goleman]