Jumat, 26 Oktober 2012


Energi Alternatif Ramah Lingkungan "Biofuel"


MASALAH energi alternatif saat ini sedang menjadi perbincangan yang ramai di masyarakat. Krisis bahan bakar minyak (BBM) saat ini telah menggugah masyarakat bahwa Indonesia sangat bergantung pada minyak bumi. Gaikindo International Conference 2005 yang diselenggarakan bersamaan dengan Gaikindo Auto Expo 2005 sengaja dilaksanakan untuk mencari solusi energi alternatif yang sesuai untuk Indonesia.

Pabrikan mobil dunia sudah belajar dari krisis minyak bumi tahun 1974 dengan mengembangkan teknologi mesin canggih yang mampu menggantikan mesin konvensional. Tinggal permasalahannya Indonesia mau pilih alternatif yang mana.

Dilihat dari luas daratan serta tanahnya yang relatif subur, Indonesia memiliki potensi untuk mengembangkan bahan bakar dari tumbuhan atau biofuel. Menteri Riset dan Teknologi, Kusmayanto Kadiman, yang menjadi salah satu pembicara dalam acara ini mengatakan, biofuel merupakan energi alternatif yang cocok dengan Indonesia.

"Energi alternatif biofuel yang dapat diperbarui dapat memperkuat ketersediaan bahan bakar. Selain itu biofuel juga ramah lingkungan sehingga bisa meningkatkan kualitas udara di beberapa kota besar di Indonesia, " katanya.

Karenanya untuk mengembangkan bahan bakar tipe ini perlu kerja sama yang harmonis dari semua pihak, termasuk pemerintah, industri otomotif dan swasta. Ada dua macam jenis biofuel yang bisa dikembangkan yaitu, ethanol dan biodiesel.

Ethanol berasal dari Alkohol yang strukturnya sama dengan bir atau minuman anggur. Untuk membuat alkohol dilakukan melalui proses fermentasi dari bahan Baku tumbuhan yang mengandung karbohidrat tinggi, seperti ketela pohon. Ethanol dipergunakan untuk menggerakkan mesin berbahan bakar bensin.

Khusus untuk mesin diesel, bisa mempergunakan bahan bakar jenis biodiesel. Diproduksi dari dari senyawa kimia bernama alkyl esters yang bisa diperoleh dari lemak nabati. Bahan esters ini memiliki komposisi yang sama dengan bahan bakar diesel solar, bahkan lebih baik nilai cetane-nya dibandingkan solar.

Sebagai bahan bakar cair, biodiesel sangat mudah digunakan dan dapat langsung dimasukkan ke dalam mesin diesel tanpa perlu memodifikasi mesin. Selain itu, dapat dicampur dengan solar untuk menghasilkan campuran biodiesel yang ber-cetane lebih tinggi. Menggunakan biodiesel dapat menjadi solusi bagi Indonesia untuk mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar solar sebesar 39,7%. Biodiesel pun sudah terbukti ramah lingkungan karena tidak mengandung sulfur.


Penelitian tentang bahan bakar alternatif sudah dilakukan di banyak negara, seperti Austria, Jerman, Prancis, dan AS. Negara ini mengembangkan teknologi biodiesel dengan memanfaatkan tanaman yang berbeda-beda. Negara Jerman memakai minyak dari tumbuhan rapeseed, AS menggunakan tanaman kedelai, sedangkan untuk Indonesia tanaman yang paling potensial adalah kelapa sawit.

Sejumlah penelitian telah dilakukan oleh lembaga dan institusi pendidikan di Indonesia, yaitu Lemigas, PPKS Medan, ITB, LIPI dan BPPT. Kebanyakan dari lembaga ini menggunakan bahan baku minyak kelapa sawit, jathropa curcas dan sebagainya.

BPPT memiliki pabrik yang bisa memproduksi sekira 1.500 liter/sehari di Puspitek Serpong. Produk ini sudah dijual ke berbagai Perusahaan pemakai biodiesel dan juga dipakai untuk menggerakkan bus operasional BPPT.

Saat ini sedang dikembangkan pabrik baru berkapasitas 8 ton/hari yang dibiayai oleh Balitbang Propinsi Riau. Desain dan konstruksi pabrik ini sudah selesai pada tahun 2004, namun belum berproduksi menunggu izin operasinya.

Berdasarkan pola pengembangan energi nasional, pemerintah sebenarnya sudah merencanakan penggunaan bioethanol dan biodiesel sekira 2% dari jumlah bahan bakar nasional pada tahun 2010. Selanjutnya meningkat menjadi 5% pada 2025. Sekarang masalahnya tinggal bagaimana mempopulerkan bahan bakar biofuel ini.

Hasil penelitian BPPT ini merupakan jawaban atas tantangan penemuan teknologi energi alternatif dalam mengatasi krisis energi nasional. "Hanya, kehadiran sumber energi alternatif baru ini perlu didukung oleh kebijakan pemerintah serta instrumen agar kebijakan itu terealisasi," ujar Kusmayanto.

Jika pemerintah mengeluarkan kebijakan berkaitan dengan energi alternatif, tentu masyarakat akan menanggapinya secara positif, apalagi bila harganya murah dan terjangkau. Selain itu kalangan pengusaha pun tentu akan melihat hal itu sebagai ceruk pasar yang potensial.

Menurut Kusmayanto, pemerintah perlu juga memberikan insentif bagi pihak swasta yang mau membangun pabrik biodiesel atau bioethanol, misalnya dengan memberikan insentif fiskal, insentif perizinan atau bahkan insentif dalam hal perpajakannya.

Di beberapa negara lain, untuk mendukung pemakaian biodiesel dan bioethanol, pemerintahnya mengeluarkan kebijakan pemberian insentif. Pemerintah Austria dan Australia mengeluarkan kebijakan kemudahan untuk membangun pabrik biofuel , sehingga pengusaha pun tertarik untuk membangun industri bahan bakar alternatif. Bahkan di Swedia, harga bioethanol BE-85 (85% ethanol dan 15% bensin) dipatok lebih murah 25% daripada bahan bakar konvensional.

Indonesia sendiri bisa belajar dari Brasil yang secara serius mengembangkan teknologi bahan bakar biofuel. Bahkan pabrikan mobil pun sangat Antusias untuk mengembangkan teknologi pendukungnya. Contohnya Toyota mulai mengalihkan perhatiannya pada pasar mobil berbahan bakar bensin gasohol untuk Brasil.

Tanaman tebu

Selain masuk ke pasar Brasil, kendaraan berbahan bakar alternatif ini dikabarkan bakal dipasarkan di Amerika Tengah dan Selatan. Jika rencana itu berjalan mulus, kendaraan ramah lingkungan tersebut paling cepat baru dirilis pada pertengahan tahun 2006.

Sebelumnya pabrikan mobil Ford selama lebih dari 14 tahun telah memproduksi satu juta unit kendaraan berbahan bakar ethanol mulai dari jenis E20 hingga E85. "Brasil adalah negara yang serius mengembangkan industri ethanol dari tebu. Tentunya kami tidak mau ketinggalan dari pabrikan lain di sana," kata Ashok Goyal. Direktur Ford Hiroshima yang berbasis di Jepang.

Di Brasil mobil yang ditenagai bensin dan alkohol tersebut lebih akrab disebut mobil flex fuel engine. Sebenarnya teknologi flex fuel bukanlah hal yang baru, sebab di Amerika Serikat pada 1980-an telah diperkenalkan mesin dengan tenaga metanol atau alkohol yang dibuat dari bahan beras dan jagung.

Tercatat produksi etanol Brasil pada 1996 mencapai 14,5 miliar liter (sekira 46% total produksi etanol global). Sedangkan produksi etanol di AS mencapai 7,6 miliar liter. Tetapi hanya Brasil yang mencatatkan diri sebagai negara pertama yang mengembangkan secara serius bahan bakar alkohol yang berasal dari gula tebu. Alasannya, di negara tersebut banyak perkebunan tebu yang hasilnya cukup melimpah.

Pemerintah Brasil memiliki program bernama Alkohol Nasional (the National Alcohol Program) yang salah satu hasil inovasinya adalah teknologi otomotif yang berhasil diluncurkan, yaitu mobil yang dijalankan dengan tenaga bensin dan alkohol yang terbuat dari gula tebu.

Gasohol, bahan bakar alternatif

Krisis bahan bakar yang sejak lama telah diprediksi membuat sejumlah peneliti girang. Pasalnya, dengan kondisi seperti ini mereka mendapatkan pengakuan atas hasil penelitiannya yang bertahun-tahun mereka kembangkan. Hal itu terlihat pada stan-stan energi alternatif seperti stan Universitas Trisakti yang mengembangkan minyak jelantah pengganti solar dan juga stanBalai Besar Teknologi Industri Pati (B2TP) BPPT yang mengembangkan Gasohol BE-10 untuk bahan bakar bensin.

Di stan BPPT tersebut sebuah jip Landrover Discovery putih yang disandingkan dengan Mercedes A-140 silver bertuliskan Fuel Cell dikerubuti para pengunjung Gaikindo Auto Expo 2005. Mereka terheran-heran saat mengetahui bahwa jip berbodi bongsor itu menggunakan bahan bakar dari singkong.

"Singkong memang bisa menggantikan bahan bakar minyak bensin. Ini bisa dipakai sebagai energi alternatif," kata Dr. Ir. M. Arief Yudiarto, Kabid Etanol & Derivatif B2TP BPPT saat ditemui di stannya sebelum pembukaan Gaikindo.

Menurut Arief, sebagai salah satu negara agraris, Indonesia memiliki potensi sumber daya energi alternatif yang sangat besar. Seperti gasohol yang terus dikaji B2TP di Lampung sejak 1983 lalu sebagai bahan bakar cair alternatif. Gasohol merupakan bahan bakar campuran antara bensin (gasoline) dan bioetanol (ethanol) fuel grade atau alkohol dengan kadar sekira 99.5%.

Sebagai salah satu bahan bakar alternatif, gasohol dengan porsi bioetanol hingga 20 persen bisa langsung digunakan pada mesin otomotif berbahan bakar bensin tanpa menimbulkan masalah teknis dan sangat ramah lingkungan. Kadar karbonmonoksida (CO) dari hasil uji pada rpm 2.500, untuk gasohol 20 % tercatat 0,76 % gas CO, sedangkan premium mencapai angka 3,66 % dan Pertamax 2,85 %.

Dari tes penggunaan gasohol pada sebuah mobil jenis minibus yang dihidupkan dengan kecepatan 80 km pada rpm 4.700, B2TP mencatat beberapa poin penting dari penggunaan gasohol. Konsumsi bahan bakar (gram/jam) dengan menggunakan gasohol 20 persen angkanya mencapai 23,25 gr/jam, sedangkan pada premium mencapai 23 gr/jam, dan Pertamax 20,57 gr/jam.

Di Indonesia hingga saat ini masih belum ada pabrik yang memproduksi bioetanol fuel grade meski kebutuhannya diperkirakan akan meningkat. Sedangkan produksi etanol Indonesia saat ini mencapai 2 juta liter per tahun untuk keperluan industri minuman serta farmasi dan sebagian lagi diekspor ke sejumlah negara. B2TP sampai saat ini masih mengandalkan pilot plant yang memiliki kapasitas 8.000 liter/hari dengan kualitas technical grade.




Slamet Haryanto alias Embing mencoba PLTH hasil temuannya di hadapan Bupati Malang Rendra Kresna. Foto : Muhaimin/Malang Post/JPNN

PLTH (pembangkit listrik tenaga hampa) bikinan Slamet Haryanto mampu bekerja nontop selama 24 jam, asalkan listrik yang dihasilkan terus digunakan. Harganya tak mahal dan ramah lingkungan.

 MUHAIMIN-MAHMUDAN, Malang

INOVASI itu bermula dari kandang ayam. Syahdan, suatu hari pada 1997, Slamet Haryanto yang sehari-hari bekerja sebagai tukang servis dinamo di kediamannya, Desa Ngroto, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, Jawa Timur, dimintai tolong oleh salah seorang tetangga untuk membuatkan sumber listrik bagi kandang ayamnya.

Semula sang tetangga meminta dibuatkan kincir angin. Tapi, setelah diutak-atik oleh Slamet yang hanya lulusan SD itu, yang tercipta adalah sebuah generator berkapasitas 2.000 watt.

Pesanan sang tetangga beres, Slamet tak puas. Sembari tetap melayani servis, dia terus mengutak-atik dinamo. Tentu dengan biaya sendiri yang menurut bapak tiga anak itu cukup menguras koceknya.

Tapi, perlahan, kegigihannya berbuah. Pada 2008, mulailah tercipta prototipe pembangkit listrik tenaga hampa. Alat generator tanpa BBM yang mirip solar cell (panel surya) tersebut memanfaatkan arang batok kelapa sebagai karbon monoksida yang ditempelkan di panel.

Satu panel mampu menghasilkan 1.500-2.000 watt listrik. "Saya sebut pembangkit listrik tenaga hampa karena memang tidak ada suaranya, tidak menggunakan BBM, dan tidak perlu panas matahari tapi mampu menghasilkan energi listrik," ungkap Slamet yang biasa disapa Embing kepada Malang Post (JPNN Group) seusai dikunjungi Bupati Malang Rendra Kresna di bengkel servis dinamonya yang juga menjadi tempat produksi PLTH di Pujon, Malang, Selasa lalu (24/5).

Sebagaimana juga ditulis Radar Malang, saat ini PLTH made in Slamet telah mampu menghasilkan kapasitas 15 ribu watt dengan daya tegangan 220 volt. Kapasitas itu dicapai secara bertahap, mulai 1.000, 2.000, terus ke 6.000 watt hingga mencapai kemampuan maksimal yang sekarang.


Pembangkit ala Embing bekerja dengan mengandalkan arus bolak-balik dari panel, travo, aki, mesin pendorong, dan kapasitor. Sebagai penggerak awal, digunakan aki berkekuatan 6 volt yang biasa terpasang di sepeda motor.

PLTH itu memiliki keunggulan mampu bertahan hidup nonstop selama 24 jam. Syaratnya, listrik yang dihasilkan harus terus digunakan, entah itu untuk menyalakan kulkas, lampu, televisi, atau alat elektronik lainnya.

"Secara otomatis, kalau listrik itu digunakan, PLTH akan memproduksi listrik secara terus-menerus pula. Kalau tidak digunakan, PLTH akan mati dan harus dipancing dengan aki lebih dulu," jelasnya.

Panel-panel yang terpasang berfungsi menyimpan listrik 1.500"2.000 watt per panel. Besaran daya yang dihasilkan bergantung banyaknya panel yang dipasang. Jadi, untuk menghasilkan 10 ribu watt, misalnya, tinggal disiapkan lima panel.

Satu panel membutuhkan sekitar 3 kilogram karbon monoksida yang dihasilkan dari arang batok kelapa yang dibeli Slamet dari petani kelapa. "Sebenarnya pakai batu bara juga bisa. Tapi, limbahnya berbahaya," ujar Slamet.

Dia menjual hasil temuan itu sejak empat tahun silam. Lewat gethok tular (dari mulut ke mulut), pasar produk listriknya terus meluas. Namun, Slamet tetap berhati-hati melayani pesanan.

Selama digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, industri rumahan, atau kepentingan umum seperti penerangan di daerah terpencil, Slamet melayani. "Kebanyakan pembelinya saat ini dari luar Pulau Jawa," ungkap pria yang memperoleh keterampilan listrik dari pamannya yang juga bekerja sebagai tukang servis dinamo tersebut.

Kehati-hatian itu dia perlukan karena hasil karyanya belum dipatenkan. Slamet khawatir ada pihak-pihak yang memesan hanya untuk menyontek dan kemudian diproduksi masal tanpa seizin dirinya.

Harga yang dipatok relatif murah. Untuk PLTH berkapasitas 1.000 watt yang menghabiskan biaya pembuatan sekitar Rp 4 juta, Slamet menjualnya sekitar Rp 5 juta. Dia untung Rp 1 juta dengan masa penggarapan alat sekitar tiga hari.

Meski Slamet tak sembarangan melayani pesanan, hasil karyanya toh akhirnya terdengar sampai ke Jakarta. Menteri BUMN Dahlan Iskan telah memesan satu unit berkapasitas 10 ribu watt. "Pak Dahlan sudah telepon saya dan bilang akan berkunjung ke sini bersama direktur Utama PLN (Nur Pamudji)," katanya.

Selain Dahlan, PLN memesan 1.000 unit pembangkit buatan pria kelahiran Lumajang, 9 September 1959, tersebut. Begitu pula Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) yang memesan lima unit serta beberapa perusahaan asing.

Keluhan Slamet mengenai hak paten juga langsung direspons Bupati Malang Rendra Kresna. Rendra berjanji membantu pengurusan hak paten tersebut ke Kementerian Kehakiman, berkoordinasi dengan Universitas Brawijaya Malang.

"Saya sangat bangga atas hasil temuan Pak Embing. Meski sudah lama diproduksi, baru kali ini saya mengetahuinya. Kami akan membantu pengurusan hak ciptanya. Ini temuan yang sangat berharga bagi masa depan energi bangsa Indonesia," tegas Rendra.

Dia juga memesan satu unit karya Embing sekaligus menyerahkan bantuan uang tunai Rp 15 juta guna mengganti biaya yang dikeluarkan dalam riset PLTH. "Saya pesan satu unit PLTH yang akan saya pamerkan di Pendapa Kabupaten Malang bersama hasil temuan dan kreasi warga Kabupaten Malang lainnya yang sangat berharga. Nanti PLTH juga dimanfaatkan untuk dusun-dusun yang belum teraliri listrik," tambahnya.

Besarnya perhatian berbagai pihak itu tentu sangat disyukuri Embing. Dia pun berharap nanti bisa mendapat solusi untuk mewujudkan impiannya selama ini: memproduksi hasil karyanya itu secara masal.



Daerah tropis diminati untuk penelitian biodiversitas mikroorganisme



Ilustrasi (imt.ie)

 Semula untuk tujuan konservasi mencegah kepunahan kemudian untuk bioteknologi
Yogyakarta (ANTARA News) - Daerah tropis diminati untuk penelitian biodiversitas mikroorganisme karena masih banyak mikroorganisme yang belum dikenal potensinya, kata anggota Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia Indrawati Gandjar.

"Biodiversitas mikroorganisme mendapat perhatian luar biasa. Semula untuk tujuan konservasi mencegah kepunahan kemudian untuk bioteknologi," katanya pada forum diskusi Bioetika di Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Selasa.

Menurut dia, perkembangan bioteknologi membawa perubahan signifikan di bidang mikrobiologi. Keuntungan luar biasa diperoleh mikrobiologi industri dengan memanfaatkan aktivitas mikroorganisme.

"Keberhasilan mikrobiologi industri terletak pada mikroorganismenya. Para mikrobiologiwan di seluruh dunia intensif mengejar untuk mendapatkan mikroorganisme unggul dari sumber alam apa pun," katanya.

Ia mengatakan semula hanya terestrial kemudian dari sumber air tawar, laut, lumpur, air panas, dan tambang yang mempunyai tingkat keasaman sangat rendah.

"Kemajuan ilmu pengetahuan memungkinkan manusia merekayasa gen-gen dari mikroorganisme untuk memperoleh sifat-sifat unggul yang dikehendaki. Misalnya, untuk produksi enzim, senyawa organik, biomassa, gas alam, antibiotik, dan toksin tertentu," katanya.

Menurut dia, begitu banyak isolat mikroorganisme potensial yang ditemukan yang kemudian dikembangkan untuk tujuan industri. Proses skrining terus menerus dilakukan sampai sekarang seiring dengan penelitian biodiversitas mikroorganisme.

"Kunci keberhasilan produk mikrobiologi industri terletak pada keunggulan mikroorganisme yang akan digunakan untuk mendegradasi atau memfermentasi substrat yang sudah ditentukan," katanya.

Ia mengatakan mikroorganisme adalah makhluk hidup yang mempunyai sifat baik dan buruk tergantung pada perlakuan terhadapnya dan lingkungan sekitarnya.

Oleh karena itu para mikrobiologiwan diharapkan mempertimbangkan dengan ketat penggunaan mikroorganisme untuk tujuan senjata biologik dan terorisme.

Mereka juga diharapkan memiliki etika tinggi terkait dengan kepemilikan biakan terutama isolat unggul dari daerah tropis sehubungan dengan "biopiracy".

"Biopiracy adalah praktik eksploitasi sumber daya alam dan pengetahuan masyarakat tentang alamnya tanpa izin dan pembagian manfaat," kata Indrawati.

Forum diskusi Bioetika diselenggarakan Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar (IPD) Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) bekerja sama dengan Pusat Studi Bioteknologi UGM dan Sekolah Pascasarjana UGM.


Kebijakan Kependudukan Dan Daya Dukung Lingkungan Kota
Yogyakarta


Daya Dukung Lingkungan Alam Kota Yogyakarta

Persebaran penduduk antara daerah perkotaan dan pedesaan di Kota Yogyakarta yang tidak merata, yaitu jumlah penduduk yang bermukim di daerah perkotaan meningkat dengan cepat dibandingkan dengan penduduk yang bermukim di pedesaan. Kondisi tersebut menyebabkan permintaan kebutuhan lahan dengan ketersediaan lahan tidak seimbang. Selanjutnya kecenderungan meningkatnya kebutuhan lahan yang terkonsentrasi di wilayah tertentu ini mengakibatkan terlampauinya batas daya dukung lahan.
Perkembangan tersebut memaksa Kota Yogyakarta melakukan perluasan kotanya ke daerah pinggiran. Salah satu wilayah pinggiran yang mengalami dampak yang paling besar adalah Kecamatan Umbulharjo. Kecamatan Umbulharjo yang semula merupakan wilayah pertanian mulai berubah fungsi menjadi wilayah non pertanian khususnya permukiman.
Data BPS tahun 2002 menunjukkan bahwa Umbulharjo merupakan kecamatan di Yogyakarta yang mengalami konversi lahan pertanian yang paling banyak jika dibanding dengan kecamatan-kecamatan lain di Yogyakarta. Total penurunan luas lahan pertanian sebesar 36,36 Ha antara tahun 1996 sampai tahun 2002 (selama enam tahun) atau terjadi penurunan 6,1 Ha tiap tahunnya (BPS, 2002). Produksi pertanian dari tahun ke tahun tidak pernah optimal dan Kota Yogyakarta bisa mengalami krisis pangan di masa mendatang. Penyusutan lahan pertanian tersebut disebabkan alih fungsi lahan untuk bangunan perumahan, perkantoran, industri dan pertokoan. Umbulharjo merupakan tujuan pemekaran Kota Yogyakarta yang sangat potensial di mana wilayahnya telah memiliki aksesibilitas yang cukup tinggi. Kemudahan pencapaian ini didukung oleh adanya Jalan Lingkar Selatan yang pembangunannya sudah dimulai sejak tahun 1993. Disamping itu, keberadaan terminal bus yang terdapat di Kelurahan Giwangan ikut mendukung nilai tambah Kecamatan Umbulharjo dari segi aksesibilitasnya. Perlu juga diketahui bahwa Kecamatan Umbulharjo memiliki kepadatan penduduk yang paling rendah di Yogyakarta yaitu sebesar 8.534 jiwa/Km2, namun memiliki luas wilayah terbesar yaitu sekitar 25% dari luas wilayah keseluruhan Kota Yogyakarta (Umbulharjo dalam Angka Tahun 2002). Potensi tersebut mampu menarik perkembangan Kota Yogyakarta ke wilayah ini.Perkembangan yang terjadi di Kecamatan Umbulharjo terutama dalam pemanfaatan lahan untuk permukiman harus memperhatikan kondisi fisik alam lahan. Hal ini dimaksudkan agar perkembangan permukiman yang ada tidak menimbulkan 3Policy Brief Pusat Penelitian dan Pengembangan Kependudukan permasalahan degradasi lingkungan di masa yang akan datang. Ketidaksesuaian pemanfaatan lahan dengan kondisi fisik alam dapat menimbulkan masalah lingkungan seperti banjir, erosi dan longsor. Permasalahan lingkungan tersebut dapat menimbulkan kerugian baik berupa meterial (harta benda) maupun non material (jiwa). Penempatan lokasi pembangunan permukiman perlu diselaraskan dengan kesesuaian lahan yang ada  di Kecamatan Umbulharjo. Dengan demikian, keseimbangan lingkungan dan tetap terjaga dan dampak-dampak negatif yang dapat menimbulkan kerugian dalam jangka panjang dapat dihindarkan. Kondisi daya dukung lingkungan alam Kota Yogyakarta juga dapat dilihat dari RTH (Ruang Terbuka Hijau). Tingginya tingkat pertambahan penduduk terutama akibat urbanisasi merupakan salah satu permasalahan kota–kota di Indonesia. Jumlah penduduk perkotaan yang tinggi yang terus meningkat dari waktu ke waktu memberikan dampak tingginya tekanan terhadap pemanfaatan ruang kota, terutama berkurangnya ruang-ruang terbuka  (open space), yang berupa Ruang Terbuka Hijau (RTH) maupun Ruang Terbuka Non Hijau sebagai ruang terbuka publik yang berpotensi menjadi ruang permukiman atau ruang budidaya.
Pemerintah Kota Yogyakarta mempunyai komitmen yang tinggi dengan permasalahan ruang terbuka hijau. Program-program yang menunjang terciptanya ruang terbuka hijau, baik yang bersifat publik maupun privat mendapat prioritas yang tinggi dalam pembangunan wilayahnya. Dalam rangka pengaturan ruang terbuka hijau maka Pemerintah Kota Yogyakarta mengeluarkan regulasi dalam bentuk peraturan walikota yakni Peraturan Walikota Yogyakarta Nomor 5 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau dan Peraturan Walikota Yogyakarta Nomor 6 Tahun 2010 tentang Penyediaan Ruang Terbuka Hijau Privat. Hal ini menunjukkan komitmen yang tinggi bagi pemerintah kota terhadap ruang terbuka hijau tersebut.
Berdasarkan data Badan Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta tahun 2010, ruang terbuka hijau (RTH publik ) yang dibangun pemerintah masih kurang dari 20 persen atau hanya 17,17 persen (557,90 hektar) dari luas wilayah Kota Yogyakarta. Kurangnya pembangunan RTH publik di wilayah kota diakibatkan karena keterbatasan lahan yang bisa digarap untuk pembangunan RTH tersebut. Maraknya pembangunan beragam proyek yang melanggar aturan lingkungan menjadi penyebab semakin kritisnya ketersediaan ruang terbuka hijau di Kota Yogyakarta. Permintaan akan pemanfaatan lahan kota yang terus tumbuh dan bersifat akseleratif utuk pembangunan berbagai fasilitas perkotaan, termasuk kemajuan teknologi, industri dan transportasi, selain sering mengubah konfigurasi alami lahan/bentang alam perkotaan juga menyita lahan-lahan tersebut dan berbagai bentukan ruang terbuka lainnya. Pembangunan mal, hotel dan beragam fasilitas lainnya hampir tidak satupun yang memenuhi ketentuan untuk berpihak kepada menjaga lingkungan. RTH publik disumbang dari pembangunan jalur hijau yang luasannya telah mencapai 360,44 hektar, setelah itu disumbang dari areal pemakaman, jalur pengaman atau median jalan, kebun binatang, lapangan olahraga,taman kota dan tempat rekreasi serta tempat parkir terbuka. Dalam rangka mencapai luasan ruang terbuka hijau yang ideal 4Policy Brief Pusat Penelitian dan Pengembangan Kependudukanseperti diamanatkan dalam Undang-Undang Penataan Ruang yakni minimal 20 % RTH publik dan 10% RTH privat, maka Kota Yogyakarta dengan di fasilitasi oleh Pemerintah Provinsi DIY dan Ditjen Penataan Ruang, Kementerian Pekerjaan Umum, menyusun rencana penyediaan RTH Publik dalam bentuk peningkatan RTH melalui prakarsa masyarakat yang diujudkan dalam bentuk sayembara desain dan pembuatan detailed engineering design hasil dari sayembara tersebut, yang selanjutnya akan diimplementasikan dalam pelaksanaan fisik di lapangan.


Daya Tampung Sosial

Tindakan kekerasan atau kriminalitas akhir-akhir ini makin sering terjadi di Kota Yogyakarta.  Perkelahian pelajar, perkosaan, pembunuhan secara keji, dan sederet peristiwa lain merupakan peristiwa yang cukup sering terjadi di Kota Yogyakarta. Data statistik menunjukkan bahwa tindak kejahatan di Kota Yogyakarta menunjukkan gejala terjadinya peningkatan. Pada tahun 2009 perkara pelanggaran yang masuk ke Pengadilan Negeri Yogyakarta sebanyak 23.333 perkara atau naik 1,25 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Demikian pula jumlah perkara di Kejaksaan Negeri Yogyakarta mengalami kenaikan (BPS, 2010). Aksi pencurian motor (Curanmor) pada 2010 di wilayah hukum Kota Yogyakarta cenderung meningkat dibandingkan 2011. Pada dua tahun terakhir itu, wilayah Polsek Umbulharjo menempati peringkat pertama, terbanyak kejadian Curanmor. Data Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polresta Kota Yogya menyebutkan, kejadian curanmor pada 2009 tercatat sebanyak 147 kasus. Jumlah tersebut naik dibandingkan 2010 yang tercatat 194 kasus (tribunjogja.com). Selain itu, kasus perkelahian pelajar belakangan ini juga semakin marak terjadi. Tidak sedikit jumlah kasus perkelahian antar pelajar yang terjadi di Yogyakarta. Kasus perkelahian yang menggemparkan dunia pendidikan di kota pelajar ini, antara lain kasus tawuran pelajar SMA yang terjadi di sekitar SMA Muhammdiyah 2 (Muha) Jogja beberapa waktu lalu yang mengakibatkan seorang pelajar mengalami luka tusuk di bagian pinggang (www.radarjogja.co.id). Kekerasan yang terjadi di Kota Yogyakarta tersebut semakin meningkat disebabkan karena kehidupan sekarang yang semakin keras. Perikehidupan yang semakin keras tersebut terjadi karena sumber-sumber kehidupan diperebutkan oleh sejumlah orang yang makin banyak. Dengan kata lain, pertambahan penduduk merupakan salah satu penyebabnya. Namun demikian, tidak mudah untuk menghubungkan pertambahan penduduk dengan meningkatkan patologi sosial. Di Hongkong dan Singapura yang begitu padat, tingkat kriminalitasnya tidak begitu tinggi. Dengan demikian, maka terdapat hal lain yang berpengaruh selain sumber kehidupan, fasilitas-fasilitas sosial yang kurang berkembang.
Daya tampung lingkungan buatan dan daya tampung lingkungan sosial yang lebih tepat sebagai faktor yang mempengaruhi timbulnya berbagai masalah, seperti perkelahian pelajar. Terbatasnya fasilitas sosial, seperti kendaraan umum, tempat bermain,  dan sempitnya solidaritas sosial, dimungkinkan lebih mempengaruhi, atau barangkali 5 Policy Brief Pusat Penelitian dan Pengembangan Kependudukanberbagai kebutuhan yang pada awalnya bukan primer tersebut, telah berubah menjadi sangat vital. Inilah salah satu ciri modernitas. Dengan kondisi daya tampung lingkungan sosial seperti yang telah dijelaskan diatas berbagai penyeimbang diperlukan untuk mengembangkan daya tampung sosial secara tradisional sebenarnya sudah kita miliki, konsep seperti gotong royong, tepo saliro misalnya. Konsep gotong-royong dan tepo seliro yang dikembangkan di masyarakat akan dapat mencegah terjadinya konflik sosial, sehingga masyarakat setempat dapat hidup dengan rukun dan damai. Dengan demikian, daya tampung lingkungan sosial di Kota Yogyakarta dapat menjadi lebih baik lagi.

Daya Tampung Lingkungan BuatanPermukiman padat di Yogyakarta, seperti di kawasan Malioboro nampaknya menghadapi permasalahan, yaitu keadaan fisik rumah yang terlalu padat dengan fasilitas yang kurang memadai. Perkembangan pesat perdagangan dan pariwisata di kawasan ini diikuti tumbuhnya toko dan hotel di sepanjang jalan Malioboro dan dimanfaatkan para Pedagang Kaki Lima (PKL). Kaki lima di jalan Malioboro memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan baik luar negeri maupun domestik. Hal ini tentu saja memberi peluang bagi pedagang luar kota, seperti Wonosari, Madura, Palembang, Lampung, Jambi, Riau dan Minangkabau ikut mengadu nasib sebagai PKL di kawasan ini. Akibat aktivitas tersebut, penduduk kampung di sekitar kawasan Malioboro pun meresponnya dengan menyediakan sebagian ruang tinggalnya untuk disewakan/dikontrakan. Fenomena kontrakan terlihat pada kampong Pajeksan dan Jogonegaran di Kelurahan Sosromenduran.
Dengan semakin meningkatnya kepadatan permukiman di kawasan Malioboro dan terbatasnya luasan ruang di dalam rumah yang kemudian menyebabkan sebagian kegiatan meluas/ekspansi ke luar rumah (ruang kampung). Kondisi tersebut menunjukkan terjadinya degradasi daya tampung lingkungan buatan di Kota Yogyakarta. Tekanan lingkungan yang tinggi tersebut kedepan akan menjadikan ketidaknyamanan bagi para penghuninya dan selanjutnya dapat mengakibatkan terjadinya konflik antar penghuni permukiman tersebut. Selain itu, letusan Gunung Merapi periode Oktober-November 2010 merupakan letusan yang tercatat terbesar dalam muntahan material vulkanik sebesar 140 juta m³. Bencana yang ditimbulkan, selain awan panas, material cair, pasir dan bebatuan yang panas juga bencana sekunder berupa lahar dingin yang mengalir dahsyat ketika hujan deras turun di sungai yang hulunya di lereng Merapi. Aliran lahar dingin dari Merapi membuat Kali Code meluap dan merendam rumah warga yang berada di bantaran sungai. Banjir lahar dingin terjadi setelah hujan lebat yang turun selama dua jam. Derasnya aliran lahar dingin membuat tanggul setinggi 25 meter ambrol. Kondisi ini membuat puluhan rumah warga terancam longsor. Berkurangnya permukiman warga akibat dari bencana banjir lahar dingin tersebut turut mengurangi jumlah ruang tempat tinggal atau permukiman yang dibutuhkan oleh warga.6 Policy Brief Pusat Penelitian dan Pengembangan Kependudukan Pelaku KebijakanPeran birokrat dalam memecahkan persoalan daya dukung lingkungan  (carrying capacity) ini sangat penting. Pelaku/pemegang kebijakan rupanya selama ini belum secara maksimal menempatkan visi dan misi Kota Yogyakarta sebagai kota pendidikan dan wisata dalam program-program yang dikembangkan masing-masing instansi dan SKPD. Selain itu, masih terjadi ketidak kompakan dan ego sektoral dalam pengembangan kebijakan. Birokrat lebih berperan dan berfungsi sebagai administratif semata dan kurang mengembangkan isu-isu strategis dalam pembangunan Kota Yogyakarta.


Kesimpulan
1. Pengembangan kota Yogyakarta sebagai kota pendidikan dan pariwisata rupanya  belum mendapatkan respon yang sebanding dari pemangku kepentingan
2. Birokrasi dan birokrat belum secara terarah mengembangkan program-program yang mendukung arah pengembangan tersebut
3. Terjadi penurunan jumlah penduduk di Kota Yogyakarta. Namun kondisi tersebut diikuti dengan peningkatan jumlah penduduk Kabupaten Sleman dan Bantul, yang berarti tekanan penduduk terhadap lingkungan masih tetap tinggi
4. Ruang terbuka hijau masih sangat terbatas jumlahnya. Pada saat yang sama juga terjadi penyempitan luas lahan pertanian di kota Yogyakarta.
5. Kawasan kumuh di kota Yogyakarta masih cukup tinggi terutama di kawasan pinggir sungai (Winongo, Code dan Gajah Wong)





Memberdayakan masyarakat untuk menghentikan eksploitasi sumber daya alam yang tidak berkelanjutan dan merusak ekosistem. Salah satu gerakan Telapak adalah mengembangkan community logging dan community fishing. Dengan konsep teresebut, masyarakat lokal dapat mengelola sumber daya alam yang ada di daerah mereka dengan tidak merusak alam dan berkelanjutan.

Kamis, 18 Oktober 2012


Pelestarian Sumber Daya Alam



CMIIW. Sumber daya alam adalah semua unsur tata lingkungan biofisik yang nyata dan berpotensi untuk memenuhi kebutuhan manusia demi mempertahankan kelangsungan hidupnya. Jadi, semua benda mati dan makhluk hidup, yang ada di muka bumi ini dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk kepentingan dan kebutuhan hidupnya, seperti udara, sinar matahari, tumbuhan, hewan, air, dan sebagainya.
Keberadaan sumber daya alam tidak tersebar secara merata di muka bumi. Oleh karena faktor geografis dan letak astronomis, jumlah dan kualitas sumber daya alam di tiap wilayah di muka bumi ini tidaklah sama. Terdapat wilayah dengan sumber daya alam sedikit atau bahkan tidak memiliki sumber daya alam sama sekali. Pada umumnya wilayah tropis memiliki sumber daya alam yang lebih kaya. Semakin menjauh dari khatulistiwa, keanekaragaman sumber daya alamnya semakin terbatas atau sedikit.

Sumber daya alam berperan penting bagi kelangsungan hidup manusia. Pemanfaatan sumber daya alam telah dilakukan sejak kehidupan manusia kali pertama di muka bumi, manusia memenuhi kebutuhan hidupnya dengan cara konservatif, yaitu dengan cara berburu, mencari tumbuhan atau buah-buahan, dan bercocok tanam sederhana.



Seiring dengan perkembangan zaman, manusia mampu memanfaatkan sumber daya alam secara lebih luas. Pertambahan populasi manusia serta perkembangan pengetahuan dan teknologi juga telah mendorong manusia untuk memanfaatkan sumber daya alam secara lebih kreatif dan intensif. Tidak heran manusia semakin mampu menguasai alam dengan cara-cara yang merusak dan tanpa mempertimbangkan kelestariannya.
Indonesia, sebagai salah satu negara berkembang dengan sumber daya alam terbesar di dunia memegang peranan penting dalam pelestarian sumber daya alam dan keseimbangan biodiversitas di bumi. Namun demikian, kerusakan lingkungan tetap terjadi, misalnya karena kebakaran hutan, banjir, penangkapan ikan dengan bom ikan, dll. Selain itu, terjadi penurunan kualitas dan kuantitas sumber daya alam, karena perubahan fungsi lahan hijau menjadi lahan terbangun serta terjadinya krisis energi.


Berbagai peristiwa tersebut menggambarkan pemanfaatan sumber daya alam tanpa mempertimbangkan norma (ketentuan) kelestarian lingkungan hidup. Jika tidak segera di atasi, masalah tersebut akan menjadi ancaman serius terhadap seluruh umat manusia dan makhluk hidup di bumi. Oleh karena itu, agar pemanfaatan sumber daya dapat berkesinambungan, maka tindakan eksploitasi harus disertai dengan norma-norma pemanfaatan dan pelestarian sumber daya alam yang komprehensif. Sehingga tercipta upaya terpadu dalam memanfaatkan, menata, memelihara, mengawasi, mengendalikan, memulihkan dan mengembangkan lingkungan hidup.



Cerita pagi dan secangkir kopi

Entah kenapa pagi ini aku kembali merindukan secangkir kopi, dan sebatang rokok sudah pasti sebagai teman penambah nikmat kopi. Padahal selama aku sakit batuk 2 minggu kemarin aku bisa terlepas dari "belenggu ini". uhhh, sangat sangat ingin sekali, tak bisa dibendung lagi.

Batuk sudah mulai bosan rupanya..aku bisa dikatakan sembuh total , inilah saatnya melampiaskan nafsu nikotinku pikirku ”!. Persediaan kopi pun udah gak ada , terpaksa recehan dalam kaleng disudut ruangan ini yang harus berimproviasi. berbekal Rp 2000 terpenuhi sudah hasrat untuk secangkir kopi dan sebatang kretek dengan judul "234". AHHhhh, secangkir kopi hitam terhidang sudah, rokok pun sudah mengepulkan asap dari mulutku yang sudah lebih 14 hari tidak terkena nikotin. Memang ini rasa kerinduan yang terdengar bodoh, namun kerinduanku harus aku penuhi.

Bersandar pada sebuah kursi yang usianya terhitung tua, lebih dari separuh umurku. aku merasa seperti anak penderita "autis" yang asik sendiri. tidak peduli gunjang-ganjing di televisi tentang maraknya demontrasi kenaikan BBM, aliran sesat, sepak terjang gank bermotor sampai kepada artis yang dicekal karena dianggap tabu. Welehh,, kok gw jadi sering nonton televisi akhir-akhir ini. Padahal TV adalah salah satu kemajuan tehnologi yang tidak begitu aku sukai. Terlukis lagi sebuah sisi yang tak sengaja terpahami.

Eyi,,, aku teringat tadi malam kau tanyakan kepadaku melalui telepon, apakah aku masih suka kepada mawar, bunga indah yang ditumbuhi duri?. yahhh sahabatku ini adalah suara masa lalu yang terus bersuara hingga kini, walaupun jarak tak dekat lagi. "tidak" jawabku berusaha munafik, karena memang tidak ada lagi bukti bahwa aku suka menanam bunga itu. dengan bahasa puitisasi ku jawab saja "
"belakangan ini aku sedang mencoba memahami dan
mandalami keindahan dari teratai"

aaahh sudah lah, tidak penting lagi. "people changes". namun aku tidak berubah sepenuhnya, aku masih suka mendengar "alpha blondy" penyanyi Ragae yang giat menyuarakan kebebasan dan perdamaian di "Liberia", melalui syair dalam lagunya dan aku juga masih suka mendengarkan"bob marley". sekali sekali juga kudengarkan nyanyian dan sayatan gitar dari "gary moore". kebetulan sekali kali ini kopiku ditemani suara "legenda" jamaica. Seorang seniman yang "hidup setelah dia mati".

tidak ada perubahan yang mendasar disini, aku masih suka kepada filosofi "hara kiri" walaupun hanya kiasan kecil yang kuambil manfaatnya. aku juga masih teringat ketika pertama membaca "orang-orang sicilia" hingga "Last Don". aku juga sedikit teringat sepak terjang Crocifixio dan Dante dua saudara dalam satu kelurga mafia itu. berikut istilah-istilah yang dipakai dalam melakukan aksi pembunuhan kepada musuhnya berupa "konfirmasi" ataupun "komuni"

hmmm aku bergumam sendiri, sambil terus menenggak kopi, kenapa ya aku begitu suka dengan cerita-cerita para "bajingan"??. aku juga tidak tahu kenapa?. yang jelas, "aku begitu menyukai rasa kekeluargaan yang tergambar dalam gangster-gangster asal italia tersebut. dan lagi aku juga mengagumi, betapa mereka begitu membenci "pengkhianatan". dan menyukai kebebasan, bukan kebablasan.


Solusi Air Bersih Lewat Tenaga Surya



Panel-panel Carocell digunakan untuk meningkatkan suhu air dalam scholar collector sehingga penguapan dalam panel meningkat lebih sempurna.

JAKARTA, KOMPAS.com - Upaya pengelolaan air bersih semakin membutuhkan perhatian lebih dari Pemerintah melalui sinergi dengan swasta dan masyarakat. Untuk itu, tahun ini Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bekerja sama dengan Kementerian Negara Koordinator Kesejahteraan Masyarakat dan F CUBED dari Australia memperkenalkan teknologi desalinasi dengan tenaga surya.
Penerapan teknologi desalinasi ini guna memperoleh air bersih bagi pertanian, perkebunan, industri maupun perumahan dan sebagainya. Teknologi ini merupakan teknologi untuk memproses penghilangan kadar garam pada kandungan air menggunakan bantuan tenaga surya, yang diharapkan bisa menjadi salah satu solusi mendapatkan pasokan air bersih di berbagai daerah di Indonesia yang sudah mencapai tahap kritis, terutama di perkotaan.
Melalui terobosan teknologi "Carocell solar desalination" atau menghilangkan kadar garam melalui teknologi tenaga surya, Carocell juga mencakup teknologi ''Zero Liquid Discharge'' (ZLD), yang mampu mengubah limbah. Hasilnya merupakan kombinasi antara air minum dengan garam sebagai hasil fraksinasi garam. Panel-panel Carocell tersebut digunakan untuk meningkatkan suhu air dalam scholar collector sehingga penguapan/kondensasi dalam panel meningkat lebih sempurna. Panel ini didesain secara canggih, geometris, mudah perawatannya dengan kinerja optimal untuk memproses air dari sumber apapun menjadi air bersih tanpa meninggalkan emisi gas rumah kaca.
"Garam hasil fraksinasi tadi akan memberi nilai tambah karena bermanfaat dijadikan garam meja atau garam untuk kolam renang. Magnesium klorida yang dihasilkan pun dapat digunakan oleh industri tambang untuk menekan debu," kata Peter Johnstone, Chief Executive Officer dan Pendiri F CUBED, dalam siaran persnya menyambut Hari Air Sedunia, di Jakarta, Sabtu (24/3/2012).
Hasil sampingan fraksinasi yang ternyata sangat bermanfaat ini, lanjut dia, juga dapat dijual dan menghasilkan uang. Lebih dari itu, adalah minimnya dampak lingkungan hidup yang dapat terjadi.
"Karena lingkungan hidup, tanaman, dan manusia tetap aman terjaga," ujarnya.
Peter, yang juga peneliti sekaligus pemilik hak patennya, menambahkan bahwa teknologi desalinasi dengan tenaga surya temuannya ini telah diterapkan di 26 negara, termasuk India, Bangladesh, Malaysia, Dubai. Ia mengatakan, pihaknya saat ini tengah menjajaki kemungkinan membangun pabrik pengolahan ini di Indonesia.
Selama ini, Pemerintah melalui lembaga BPPT maupun LIPI merupakan lembaga pemerintah yang bertanggungjawab terhadap penelitian, pengkajian dan penerapan teknologi untuk mendapatkan air bersih bagi masyarakat. Karena itulah, lanjut Peter, dengan investasi sekitar 10 juta Dolar AS, pihaknya mengajak kerja sama BPPT dan LIPI untuk mencapai tujuan tersebut.
Sebelumnya, FCUBED baru-baru ini menandatangi kontrak senilai 11 juta USD dengan Pemerintah Kota Ceduna di Australia Selatan untuk memasok air minum melalui terobosan teknologi Carocell solar desalination.
Sementara itu, menurut Direktur Perwakilan Kantor Unesco di Jakarta Hubert Gijzen mengatakan, pengelolaan air menjadi faktor tunggal paling mendesak saat ini karena bisa menghambat pembangunan bangsa. Perlu dilakukan berbagai upaya untuk lebih mempromosikan pembangunan air secara berkelanjutan.
"Buruknya pengelolaan air bisa menghambat pembangunan, membatasi produksi pangan serta berbagai penderitaan dan kerusakan ekonomi dari bencana yang berhubungan dengan air," kata Hubert di Jakarta, Sabtu (24/3/2012).
Pemurni air
Sebelumnya, Yoyon Ahmudiarto dari Pusat Penelitian Tenaga Listrik dan Mekatronik (P2-Telimek) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) juga telah menciptakan "Banyu Mili". Upaya yang dilakukan Yoyon diharapkan bisa membantu masyarakat yang semakin sulit mendapatkan air layak konsumsi dengan murah karena sumber air tanah di beberapa daerah juga kian minim. Sementara upaya mendapatkan sumber air alternatif menghadapi kendala peralatan dan biaya.
"Banyu Mili adalah alat pemurni air dengan tenaga surya yang bisa memenuhi kebutuhan air secara murah," kata Yoyon saat ditemui di Jakarta, Kamis (15/3/2012) lalu.
Banyu Mili atau singkatan dari "Banyu Milik LIPI" ini bisa mengolah air dari sumber manapun secara singkat dan dapat langsung diminum.  Komponen alat pemurni air tersebut terdiri dari panel surya, kabel, filter karbon aktif, filter mikron, lampu ultraviolet, accu, selang dan kran air. Air yang diproses akan masuk lewat selang ke filter karbon aktif. Di sini, air akan dibebaskan dari senyawa kimia berbahaya. Selanjutnya, air masuk ke filter mikron untuk memisahkannya dari partikel debu.
Proses sterilisasi air akan berlangsung di dalam saluran dengan sinar UV. Setelah proses ini, air akan dikeluarkan lewat kran dan sudah siap diminum.

SIAPA SIH PENEMU TELePON?????

Saat ini komunikasi antar manusia makin mudah karena udah ada fasilitas telepon yang sangat membantu dalam kehidupan sehari-hari. Lalu siapa tokoh yang paling berjasa dibalik penemuan telepon? 
Umumnya penemu telepon yang lebih dikenal masyarakat adalah Alexander Graham Bell, tetapi sepertinya sejarah harus ditulis ulang karena adalah seorang imigran dari Firenze (Florence), Italia yang bernama Antonio Meucci yang telah menciptakan telepon pada tahun 1849 dan mematenkan hasil karyanya pada tahun 1871.
Sebelum Penetapan yang baru
Dia adalah Alexander Graham Bell yang pertama kali menemukan alat komunikasi ini.
Bell lahir pada tanggal 3 Maret 1847 di Edinburg, Scotland. Bell berasal dari keluarga yang sangat mementingkan pendidikan. Ayahnya adalah seorang psikolog dan elocution bernama Alexander Melville Bell, sedangkan kakeknya Alexander Bell merupakan seorang elucution professor. 
Setelah menyelesaikan kuliahnya di University of Edinburg dan University College di London, Bell memutuskan buat menjadi asisten ayahnya. Dia membantu orang-orang yang cacat pendengaran untuk belajar berbicara dengan metode yang telah diterapkan oleh ayahnya, yaitu dengan memperhatikan posisi bibir dan lidah lawan bicara.
Pada saat dia bermukim di London, Bell sempat belajar tentang percobaan yang dilakukan oleh Herman Ludwig von Helmholtz berupa tuning fork dan magnet yang bisa menghasilkan bunyi yang terdengar nyaring. Kemudian baru pada tahun 1865 Bell mempelajari lebih mendalam tentang suara yang keluar dari mulut saat berbicara.


Bell semakin tertarik dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan bunyi-bunyian, makanya dia nggak keberatan ketika harus mengajar di Sarah Fuller, Boston yang merupakan sekolah khusus orang-orang tuli pada tahun 1870, selain itu Bell juga bekerja sebagai guru privat. Dan ketika dirinya diangkat menjadi guru besar psikologi di Boston University pada tahun 1873, Bell mengadakan suatu pertemuan khusus buat para guru yang menangani masalah murid-murid yang mengalami cacat pendengaran.Hampir seluruh hidupnya Bell menghabiskan waktunya untuk mengurusi masalah pendidikan orang-orang yang cacat pendengaran bahkan kemudian dirinya mendirikan American Association to Promote the Theahing of Speech to the Deaf.
Bell mulai melakukan penelitian dengan menggunakan phonatograph, multiple telegraph dan electric speaking telegraph dari tahun 1873 sampai 1976 yang dibiayai oleh dua orang ayah dari muridnya. Salah satu penyandang dananya adalah Gardiner Hubbard yang mempunyai seorang putri yang telinganya tuli bernama Mabel, wanita inilah yang dikemudian hari menjadi istri Bell.

Di kemudian hari Bell mengungkapkan keinginannya untuk menciptakan suatu alat komunikasi dengan transmisi gelombang listrik. Bell pun mengajak temannya Thomas Watson buat membantu menyediakan perlengkapannya. Penelitiannya dilakukan dengan menggunakan alat pengatur suara dan magnet untuk menghantarkan bunyi yang akan dikirimkan, peristiwa ini terjadi pada tanggal 2 Juni 1875. 
Akhirnya terciptalah karya Bell sebuah pesawat penerima telepon dan pemancar yang bentuknya berupa sebuah piringan hitam tipis yang dipasang di depan electromagnet. Baru pada tanggal 14 Februari 1876 Bell mematenkan hasil penemuannya, tapi oleh US Patent Office penemuan Bell ini baru resmi dipatenkan pada tanggal 7 Maret untuk “electric speaking telephone”.
Bell terus memperbarui penemuannya dan untuk pertama kalinya dia berhasil mengirimkan suatu kalimat berbunyi “Watson, come here, I want you” pada tanggal 10 Maret 1876.

Penetapan Baru Sebagai Penemu Telepon

Lebih dari seabad dan di seluruh penjuru dunia, Alexander Graham Bell dikenal sebagai penemu 
telepon. Tetapi pada tanggal 11 Juni2002 di kongres Amerika Serikat, Antonio Meucci ditetapkan sebagai penemu telepon.

Senin, 15 Oktober 2012


R.A. Kartini dan Para Yahudi Belanda


Surat-surat Kartini yang kental dengan doktrin pluralisme agama, okultisme, dan humanisme ala Theosofi banyak ditujukan kepada sahabat-sahabatnya yang berdarah Yahudi. Siapa saja mereka?
Oleh Artawijaya*
Lewat sebuah iklan di Majalah De Hollandse Lelie, sebuah majalah wanita yang terkenal pada saat itu dan terbit di Belanda, Raden Ajeng Kartini (1879-1904) berkenalan dengan Estella H Zeehandelaar, seorang perempuan Yahudi pejuang feminisme radikal yang tinggal di Amsterdam, Belanda. Estella- atau yang disebut oleh Kartini dalam surat-suratnya dengan Stella, adalah anak seorang dokter dari keluarga Yahudi. Stella dikenal sebagai pegiat feminisme, sosialisme, aktivis penyayang binatang, dan seorang vegetarian layaknya penganut Theosofi yang cukup berpengaruh saat itu. Stella juga aktif sebagai anggotaSocial Democratische Arbeiders Partij (SDAP), partai pengusung sosialis-demokrat di negeri Belanda yang ketika itu memperjuangkan sosialisme dan humanisme, termasuk ide-ide tentang kesetaraan gender dan pluralisme.
Perkenalan Kartini dengan Stella berlangsung lewat korespondensi surat-menyurat. Surat pertama ditulis Kartini pada 25 Mei 1899, ketika usianya menginjak 20 tahun. Tak sulit bagi Kartini untuk menjalin hubungan dengan orang-orang Belanda, mengingat sebagai anak priyai Jawa, ia mempunyai akses yang mudah untuk melakukan itu. Teman-temannya semasa di Europese Lagere School (ELS) kebanyakan adalah anak-anak Eropa, khususnya Belanda. Paman dan saudara-saudaranya juga dekat dengan elit Belanda.
Surat menyurat Kartini dengan Stella banyak membicarakan mengenai kebatinan dan keyakinan agama. Dalam surat-suratnya, Stella juga banyak memperkenalkan Kartini dengan berbagai paham modern, terutama mengenai perjuangan wanita dan sosialisme. Mengenai persahabatannya dengan Kartini, Stella pernah menulis surat kepada Ny. Nellie van Koll, tertanggal 28 Juni 1902, yang mengatakan, ”Kartini dilahirkan sebagai seorang Muslim, dan saya dilahirkan sebagai seorang Yahudi. Meskipun demikian, kami mempunyai pemikiran yang sama tentang Tuhan...”
Dalam suratnya kepada H.H van Kol, anggota Freemason yang juga suami dari Nellie van Kol, tertanggal 10 Agustus 1902, Kartini juga mengatakan, ”Ia tidak seagama dengan kita, tetapi tidak mengapa. Tuhannya, Tuhan kita semua.” Sedangkan kepada Stella, dalam surat tertanggal 6 Nopember 1899, Kartini mengatakan, ”Ya Tuhanku, adakalnya aku berharap, alangkah baiknya jika tidak ada agama itu, sebenarnya yang harus mempersatukan semua hamba Allah...orang yang seibu sebapak berlawanan karena berlainan cara mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa. Orang yang berkasih-kasihan dengan amat sangatnya, dengan amat sedihnya bercerai berai. Karena berlainan tempat menyeru Tuhan, Tuhan yang itu juga, berdirilah tembok yang membatasi hati yang berkasih-kasihan. Benarkah agama itu restu bagi manusia? Tanyaku kerap kali kepada diriku sendiri dengan bimbang hati...”
Kumpulan surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar bisa dilihat dalam korespondensi Kartini periode 1899-1903, yang kemudian dikumpulkan oleh Dr. Joost Cote dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul,”Aku Mau...Femininisme dan Nasionalisme: Surat-Surat Kartini Kepada Stella Zeehandelaar 1899-1903”. Buku ini diterbitkan pada 1979 untuk mengenang seabad wafatnya Kartini.
Sosok lain yang menjadi sahabat Kartini adalah Nyonya Rosa Manuela Abendanon Mandri atau sering disingkat Ny. RM Abendanon Mandri. Perempuan berdarah Yahudi, kelahiran Puerto Rico ini adalah istri kedua dari Jacques Henri Abendanon, Direktur Kementerian Pengajaran, Ibadat, dan Kerajinan di Hindia Belanda. Ny. Abendanon disebut oleh Kartini sebagai orang satu-satunya yang banyak mengetahui kehidupan batinnya.Ny. Abendanon juga banyak mengirimkan buku-buku terutama tentang humanisme, diantaranya buku Karaktervorming der Vrouw(Pembentukan Akhlak Perempuan) karya Helena Mercier,Modern Maagden (Gadis Modern) karya Marcel Prevost, De Vrouwen an Socialisme (Wanita dan Sosialisme) karya August Bebel dan Berthold Meryan karya seorang sosialis bernama Cornelie Huygens. Kartini juga membaca buku De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus.
Surat-surat Kartini dengan RM Abendanon kemudian diterbitkan pada 1911 oleh Kartini Fonds, sebuah lembaga yang dibentuk oleh seorang humanis yang juga terlibat dari Gerakan Politik Etis, Conrad Theodore van Daventer. Kumpulan surat tersebut kemudian diberi judul “Door Duisternis tot Licht”, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Sastrawan anggota Theosofi, Armijn Pane dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”
Majalah Tempo, 12 Oktober 1987, mengulas mengenai terbitnya buku yang berisi surat menyurat Kartini dengan Ny. RM Abendanon dan J.H Abendanon. Majalah Tempo menulis, tak semua surat-surat Kartini ditampilkan dalam buku tersebut. Stella, yang diduga memiliki sedikitnya 20 surat Kartini, hanya meminjamkan 14 pucuk. Annie Glaser, sosok yang disebut dalam surat Kartini, yang menceritakan spiritualisme gaib, bahkan sama sekali menolak meminjamkan surat-srat Kartini yang ada di tangannya untuk dipublikasikan.
Sejumlah surat lainnya, diterbitkan namun sudah diedit dan dipotong oleh Ny. Abendanon. Inilah yang menjadi pertanyaan sebagaimana diajukan oleh Dr.Th Sumarna dalam bukunya “Tuhan dan Agama dalam Pergulatan Batin Kartini”, entah dengan alasan apa surat-surat Kartini yang berisi yang berisi pengalamannya dalam dunia okultislme dan mistisisme “disensor” oleh Abendanon? Keterangan mengenai kepercayaan Kartini terhadap okultisme hanya didapat dari surat-suratnya yang ditujukan kepada Stella dan keluarga Van Kol. Seperti diketahui, okultisme banyak diajarkan oleh jaringan Freemasonry dan Theosofi, sebagai bagian dari ritual perkumpulan mereka.

Cerita mengenai okultisme sempat disinggung oleh Kartini dalam suratnya, 15 Juli 1902. Kartini menulis, ”Mengenai spiritisme yang dianutnya (Tuan Van Kol, pen) dengan setia, sudah diceritakan Annie kepada Nyonya, bukan? Saya senang sekali bahwa diperkenalkan dengan kepercayaan itu, tidak untuk memanggil rohnya, tetapi mengenai indahnya kepercayaan itu. Ajaran itu mendamaikan kami banyak hal, yang tampaknya ketidakadilan berat dan memberikan hiburan, bahwa kegagalan kami sekarang dalah penebusan dosa dalam kehidupan sebelumnya...kami sungguh-sungguh tercengang. Tuan Van Kol mengatakan bahwa dia dan istrinya melalui spiritisme memperoleh banyak nasihat dari dunia arwah.”
Tuan dan Nyonya Abendanon adalah sahabat karib Snouck Hurgronje. Atas saran Snouck-lah, Tuan Abendanon, yang juga berdarah Yahudi, yang saat itu menjabat sebagai Direktur Pengajaran, Ibadah, dan Kerajinan di Hindia Belanda, diminta untuk mendekati Kartini bersaudara.Snouck yang ketika itu menjabat sebagai Penasehat Pemerintahan Hindia Belanda, meminta Abendanon agar menaruh perhatian lebih kepada Kartini. Tujuannya adalah, merekrut sebanyak mungkin anak-anak priayai agar tercapai proses asimiliasi antara kebudayaan Barat dan pribumi.
Kepada Ny. Abendanon, Kartini pernah menitip pesan agar menanyakan hal yang berkaitan dengan hukum Islam. Kartini menganggap Snouck sebagai orang yang paham Islam, padahal sesungguhnya seorang orientalis yang pura-pura mendalami Islam. Kartini menulis, ”Apabila bila Nyonya bertemu dengan teman Nyonya Dr Snouck Hurgronje, sudikah nyonya bertanya kepada beliau tentang hal berikut:Apakah dalam agama Islam juga ada hukum akil balig seperti yang terdapat dalam undang-undang bangsa Barat? Ataukah sebaiknya saya memberanikan diri langsung bertanya kepada beliau? Saya ingin sekali mengetahui sesuatu tentang hak dan kewajiban perempuan Islam serta anak perempuannya. Bagaimana undang-undang agama mereka? Suatu hal yang bagus sekali, saya malu bahwa kami sendiri tidak tahu tentang hal itu...
Nama-nama lain yang menjadi teman berkorespondensi Kartini adalah Tuan H.H Van Kol (anggota Freemason), Ny Nellie Van Kol, Ny M. C.E Ovink Soer, E.C Abendanon (anak J.H Abendanon), dan Dr N Adriani. Kepada Kartini, Ny Van Kol banyak mengajarkan tentang Bibel dan spiritualisme, sedangkan kepada Dr N Adriani, Kartini banyak mengeritik soal zending Kristen, meskipun dalam pandangan Kartini semua agama sama saja.
Ridwan Saidi dalam buku Fakta dan Data Yahudi di Indonesiamemiliki cerita lain. Ridwan mengatakan, sebagai orang yang berasal dari keturunan priayi atau elit Jawa dan mempunyai bakat yang besar dalam pendidikan, maka Kartini menjadi bidikan kelompok Theosofi, sebuah kelompok yang juga banyak digerakkan oleh orang-orang Belanda saat itu. Dalam catatan Ridwan Saidi, orang-orang Belanda gagal mengajak Kartini berangkat studi ke negeri Belanda. Karena gagal, maka mereka menyusupkan ke dalam kehidupan Kartini seorang gadis kader Zionis bernama Josephine Hartseen.Hartseen, menurut Ridwan adalah nama keluarga Yahudi.
Tulisan ini bisa dibilang adalah pengantar bagi mereka yang ingin meneliti secara serius dan mendalam tentang bagaimana pemikiran dan paham keagaaman Kartini, dan sejauh mana para keturunan Yahudi tersebut mempengaruhi pemikirannya? Dalam buku ”Gerakan Theosofi di Nusantara”, penulis menyimpulkan bahwa corak pemikiran dan keagamaan Kartini sangat kental dengan muatan Theosofi. Itu tercermin dari surat-suratnya dan pertemanannya dengan para Yahudi Belanda. Namun, bisa saja data yang tak terungkap lebih banyak, mengingat surat-menyurat Kartini tak semuanya diterbitkan, dan sebagian entah kemana...
*Penulis buku ”Jaringan Yahudi Internasional di Nusantara”, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2010.