Jumat, 21 Desember 2012



Reaktor Nuklir Jepang Meledak Akibat Gempa dan Tsunami
 


Gempa dan Tsunami mengakibatkan Reaktor Nuklir Jepang Meledak. Gempa dahsyat yang disusul tsunami yang melanda kawasan timur laut Jepang, mengakibatkan satu unit  reaktor nuklir listrik milik Tokyo Electric Power Co Fukushima No 1, meledak dan menyebarkan zat radioaktif 1.000 kali lipat dari normal.

Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Yukio Edano meminta masyarakat untuk tetap tenang. Dia mengatakan, pemerintah sedang mengukur radiasi dari zat radioaktif tersebut. Tokyo Electric Power mengatakan, atap dari reaktor nuklir tersebut telah runtuh akibat ledakan yang terjadi pada Jumat (11/3) pukul 15.36 waktu setempat. 

Ledakan ini terjadi setelah sebuah gempa susulan terjadi. Pakar nuklir Jepang mengatakan pembangkit listrik nuklir meledak setelah sistem pendinginan tidak bekerja memadai akibat hantam gempa dan tsunami kemarin.  Akibat ledakan itu empat orang cedera. Dua di antaranya adalah pegawai Tokyo Electric Power. Selain itu, pemerintah telah mendeteksi radiasi telah meningkat mencapai 1.015 micro sievart. Jumlah ini setara dengan kadar yang diperkenankan bagi manusia dalam setahun.

Sabtu (12/3) pagi, dinding reaktor listrik ini hancur. Asap menyembul dari pembangkit yang berada di Fukushima, sekitar 240 kilometer utara Tokyo. Atau sekitar 60 kilometer dari Sendai, kota terparah dihantam tsunami. Prefektur Fukushima, Masato Abe mengaku tidak mengetahui penyebab runtuhnya dinding dan asap yang keluar dari pembangkit listrik tenaga nuklir itu. Dia menampik jika telah terjadi ledakan.

Ryohei Shiomoi, seorang pejabat keselamatan nuklir Jepang mengatakan, jika pembangkit listrik nuklir itu meleleh tidak akan menimbulkan dampak bagi orang di luar radius 10 kilometer. Pemerintah Jepang sendiri telah mengirimkan tim penyelamat dan mengevakuasi sekitar 3.000 penduduk di sekitar Tokyo Eletric Power Co di Fukushima.

Kabar terakhir dari Kedutaan Besar RI (KBRI) di Tokyo, Pemerintah Jepang juga sudah memperluas daerah aman dari 10 menjadi 20 kilometer dari lokasi kejadian. 

"Radius daerah yang perlu diamankan melebar hingga 20 km," tulis KBRI di Tokyo melalui akun twitter, @KBRITokyo. Pemerintah Jepang juga menetapkan empat PLTN  lainnya berstatus gawat darurat. Satu di antaranya berada di Daini, yang notabene merupakan PLTN pertama Jepang. Tiga lainnya berdekatan dengan kawasan Fukushima Daini.

Badan Energi Atom International (IAEA) mengatakan, sistem pendinginan reaktor nuklir itu tidak bekerja dengan baik karena mesin generator diesel terendam air akibat gelombang tsunami Jumat. Para pekerja PLTN telah berusaha mendinginkan reaktor tersebut namun tampaknya belum menunjukkan tanda tanda berhasil.

Jepang mempunyai 54 reaktor nuklir. Sebanyak 10 di antaranya telah dipadamkan pasca gempa dan tsunami mengguncang Negeri Sakura ini. Pakar nuklir Jepang memastikan potensi kebocoran zat radioaktif di Tokyo Eletric Power Co di Fukushima tersebut tak akan separah seperti kebocoran nuklir di Chernobyl, Rusia. 


"Tak ada akan ada bencana Chernobyl di reaktor. Kehilangan daya dukung pendinginan berarti naiknya suhu tetapi itu juga akan menghentikan proses reaksi," ujar Naoto Sekimura, seorang profesor dari Universitas Tokyo, seperti dilansir  Aljazeera, Sabtu (12/3).


Ancam Indonesia . Akibat ledakan di reaktor nuklir Fukushima, diprediksi bisa berdampak hingga ke Indonesia. Uap limbah reaktor nuklir yang meledak dapat tertiup angin hingga ribuan kilometer bahkan tiba di Indonesia.

"Tragedi Chernobyl itu radioaktifnya bisa terbawa angin hingga ke Skotlandia di kawasan Eropa Barat, kemungkinan itu bisa jadi ada (sampai ke Indonesia)," ujar Jubir Greenpeace Asia Tenggara, Hikmat Soeriatanuwijaya kepada Tribunnews.

Meski begitu, Hikmat belum dapat memastikan waktu yang ditempuh uap nuklir tersebut saat terhembus angin di udara. pihaknya mengaku baru akan melakukan penelitian tentang hal tersebut. Akan tetapi, melihat tragedi Chernobyl, efek negatif setelah tibanya uap di suatu tempat yang dirasakan bisa dalam jangka waktu yang lama yaitu sampai 30 tahun.  "Dampaknya itu lama sampai 30 tahun kalau sudah kena radiasi radioaktif nuklir," ujarnya.

Hikmat menjelaskan efek jangka pendek yang bisa dirasakan atas radiasi limbah nuklir tersebut bisa berupa kematian pada saat itu juga. Sementara untuk jangka panjang adalah seperti penyakit kanker kulit.  

Berkaca pada pengalaman tragedi Chernobyl, Ukraina dan di Fukushima, Jepang sudah saatnya Indonesia tidak menggunakan nuklir sebagai pembangkit tenaga listrik alternatif selain air.

Sumber [http://lefkoleflye.blogspot.com/2011/03/reaktor-nuklir-jepang-meledak-akibat.html]



Tragedi Chernobyl


Kita tentu ingat akan sebuah tragedi bocornya reaktor nuklir Chernobyl yang terjadi pada tanggal 26 April 1986. Tiga hari setelah peristiwa tersebut hampir 50.000 penduduk kota tersebut di evakuasi tanpa membawa apapun dari tempat tinggal mereka, hanya pakaian yang melekat di badan yang mereka bawa. Semua harta benda yan mereka miliki di tinggalkan, rumah, mobil, binatang ternak, pakaian, semuanya..!! dan tidak ada yang pernah kembali lagi ke tempat itu.

Kebocoran reaktor nuklir akan berdampak terhadap generasi secara turun temurun. Apa yang terjadi di Chernobyl dampaknya masih dirasakan oleh orang-orang yang terpapar radiasi hingga saat ini. Yang terjadi adalah keturunan dari orang-orang tersebut mengalami kelainan fisik yang sangat mengerikan, bahkan penyakit langka yang secara medis sangat sulit untuk di sembuhkan.

Dampak yang terjadi ternyata tidak hanya di rasakan oleh penduduk sekitar reaktor nuklir, binatang-binatang yang hidup di tempat tersebut juga mengalami nasib yang sama, menderita kelainan fisik dan penyakit aneh



Kecerdasan manusia adalah sesuatu yang terbatas, mereka mampu menciptakan tehnologi yang bermanfaat bagi kehidupan mereka, namun apa yang terjadi di alam sering di luar apa yang mereka perkirakan dan ada banyak faktor yang mempengaruhinya.

Sumber [http://www.infogue.web.id/2012/08/dampak-bocornya-reaktor-nuklir.html]


Mungkinkah Energi Nuklir di Indonesia ???

Beberapa waktu yang lalu, salah satu anggota Dewan Energi Nasional, Prof. Rinaldy Dalimi, berpendapat bahwa pemanfaatan energi nuklir di Indonesia hampir tidak mungkin dilaksanakan. Apakah benar tidak mungkin?
Berikut ini adalah tanggapan Dr. Sidik Permana, dosen ITB dengan spesialisasi riset nuclear engineering, mengenai pendapat “ketidakmungkinan” pemanfaatan teknologi nuklir di Indonesia.
Dimedia-media, nyaris tidak ada nilai positif bagi pembangunan PLTN.
Tapi hal ini sudah lumrah, dan khususnya di DEN, kalau setuju semua juga tidak baik, tidak ada kontrol efektif untuk itu.
Kedepan, badan regulasi tenaga nuklir akan lebih penting karena akan melakukan kontrol dan licensing.
Kita ulas saja pernyataan Prof. Dalimi terkait nuklir di media tersebut.

1. Yakni PLTN akan mengharuskan Indonesia mengimpor uranium, karena uranium Indonesia tidak ekonomis
Mayoritas industri nuklir (PLTN) menggunakan bahan bakar uranium import, kecuali negara nuklir yang mempunyai sumber daya uranium alam yang banyak dan teknologi pengayaannya seperti Amerika, Rusia dan Kanada, Khusus Kanada, dengan teknologi CANDU, tidak perlu pengayaan. Jadi sumber daya alam uranium di negara-negara yg tidak pakai PLTN jauh lebih banyak seperti Australia, Kazakstan, Nigeria, dll. Terkait ekonomis, bukan faktor uraniumnya, meskipun beberapa tipe kandungan uranium memberikan variasi harga, tetapi karena nilai ekonomis kalau kita melakukan enrichment sendiri, kecuali kedepan mau punya industri pengayaan sendiri dan daur ulang, nah itu lain hal. Tapi kalau untuk operasional reaktor yg terbatas cukup dengan import masih lebih murah. Pertanyaannya, bahan energi mana yang tidak import? minyak sudah lama import, batu bara mungkin kedepannya akan import, renewable? teknologinya dari mana bahan2nya? selain faktor ekonomis dan limbah proses olahannya?
2. Dunia tidak akan mengizinkan Indonesia melakukan pengayaan uranium, karena Iran saja dilarang, meski pemerintahnya melawan.
Pernyataan ini kurang lengkap dan tidak menyentuh akan permasalah terkait pengayaan uranium untuk PLTN dan terkait non proliferasi dan juga kasus Iran, Korea Utara, kemudian India dan Pakistan. Teknologi pengayaan dan daur ulang tidak dilarang dan merupakan hak semua negara, tetapi hanyak untuk tujuan damai dan sipil salah satunya PLTN. Jadi aneh apabila pengayaan uranium untuk PLTN dianggap akan dilarang. LEU atau less enriched uranium kurang dari 20% adalah legal digunakan untuk PLTN selain adanya kontrol material dan monitoring dan inspeksi dari regulasi masing2 negara dan juga IAEA. Untuk Iran yang terjadi adanya distrust dan ketakutan berlebih apabila teknologi penyaan dikuasai akan membuat bom, padahal statement resminya tidak akan membuat dan beberapa inspeksi juga tidak ada bukti mengarah kesana dan kalaupun bisa masih terlalu jauh untuk memproduksinya. Jadi pembahasan tersendiri.
3. Alasan yang cukup berat adalah Indonesia merupakan “kawasan gempa” sehingga risikonya tinggi. “Kalau pun dibangun dengan tahan gempa, tentu biayanya akan mahal, sehingga harganya nuklir juga tidak akan murah, bahkan perlu subsidi.”
Dari zaman generasi kedua khsusnya 1960an, bangunan reaktor sudah diperhitungkan dampak gempa, bahkan juga dinding untuk tsunami dan begitu pula sekarang dengan standar yg lebih tinggi. Khusus kasus Fukushima daiichi unit 1 yg paling tua dibangun 1965, beroperasi 1971, sudah memperhitungkan gempa dan direvisi kemudian dengan perkembangan gempa Chili 1995 kalau tidak salah yang besarnya 9.5 M dan tsunami kurang dari 6 meter. Dan masih ekonomis. Akan sedikit lebih tinggi harga PLTN, apabila menghitung juga liability atau efek dari kebocoran radiasi, dan itu juga masih bisa diprediksi dengan kasus Fukushima ini berapa harga yang perlu dibayar untuk kejadian2 seperti itu. Negara-negara maju dan industri memilih nuklir karena murah, sustainable dan non-CO2 emission. Untuk teknologi tahan gempa di Jepang sudah bisa diprediksi dengan bagus dan kejadian Fukushima bukan karena faktor gempanya tetapi faktor tsunami. Bahkan ketika gempa Kashiwazaki-kariwa di Niigata, rasio besarnya gempa 2 kalinya dengan desain dasar tahan gempa PLTN tersebut, tetapi mereka tetap merestart ulang dan bisa bertahan.
4. Alasan yang juga penting adalah Jepang sudah mematikan 54 unit PLTN pada dua minggu lalu, lalu Jerman juga akan mematikan seluruh PLTN-nya pada tahun 2025.
Kalau Jerman jelas terlalu banyak alasan politis dan sekarang mulai terasa bagaimana sulitnya mengkonversi seperempat listriknya dari nuklir dengan yang lain. Selain itu Jerman adalah salah satu negara pengimpor gas, minyak dan batubara terbesar dunia. Kalau situasi politik berubah, kondisi ekonomi berubah maka kebijakan akan berubah juga. Untuk Jepang, kebijakan energi jangka panjang sedang dibuatkan. dan berita terbaru, dari 17 reaktor yang sudah mengajukan uji stress test sudah 2 PLTN yang sudah oke dan mendapat approval dari dewan kota. Dan lambat laun akan direstrat kembali PLTN yang ada, karena sudah melewati regulasi safety dan pengecekan dan izin dari daerah yang kemungkinan besar akan diikuti oleh yang lainnya. Disamping itu, pabrik2 di Jepang juga sudah kekurangan energi listrik dan sebagai penggantinya dengan menghidupkan kembali PLTU tua dengan import batu bara dan menambah import gas untuk PLTG mereka yang tenbtunya harga listrik naik (sekitar 17% Tepco) dan emisi CO2 yang bertambah sehingga program pengurangan emisi rumah kaca jadi terkendala.
Alasan terakhir ini, masih debatable dan unpredictable secara pasti tapi masih bisa kita amati kecenderungannya. Tapi isu keempat ini akan berbeda dengan kecenderungan negara2 lainnya yang justru akan segera membangun PLTNnya
Sumber [http://medianuklir.wordpress.com/2012/05/17/energi-nuklir-untuk-indonesia-mungkinkah/]


KERUGIAN-KERUGIAN INSTALASI LISTRIK YANG TIDAK STANDAR



Sebagai pengguna Listrik Pasti kita menginginkan Listrik Rumah kita yang  aman, andal dan murah dalam pembayaran rekening listrik. Tapi karena masyarakat kita tidak semua memahami Instalasi listrik, Hal ini yang bisa menjadi masalah dan  permasalahan dimasyarakat, Kenapa begitu..........???   

Bila kita tidak mengerti Instalasi Listrik, Kita bisa jadi makanan empuk Oknum-oknum BTL yang Nakal memasang Listrik kita dengan matrial yang tidak SNI dan asal menyala.
Dengan kurang mengertinya kita terhadap Instalasi Listrik, itu membuat kita menambah sendiri instalasi listrik yang ada dirumah kita tampa memperhatikan standar pemasangan instalasi listrik. Kita memasang instalasi dengan kabel serabut yang tidak standar. kita memasang instalasi listrik dengan kabel telepon, yang  penting nyala, dll.