Mungkinkah Energi Nuklir di Indonesia ???
Beberapa waktu yang lalu, salah satu anggota
Dewan Energi Nasional, Prof. Rinaldy
Dalimi, berpendapat bahwa pemanfaatan energi nuklir di
Indonesia hampir tidak mungkin dilaksanakan. Apakah benar tidak mungkin?
Berikut ini adalah tanggapan Dr. Sidik
Permana, dosen ITB dengan spesialisasi riset nuclear engineering,
mengenai pendapat “ketidakmungkinan” pemanfaatan teknologi nuklir di Indonesia.
Dimedia-media, nyaris tidak ada nilai positif
bagi pembangunan PLTN.
Tapi hal ini sudah lumrah, dan khususnya di DEN, kalau setuju semua juga tidak baik, tidak ada kontrol efektif untuk itu.
Kedepan, badan regulasi tenaga nuklir akan lebih penting karena akan melakukan kontrol dan licensing.
Tapi hal ini sudah lumrah, dan khususnya di DEN, kalau setuju semua juga tidak baik, tidak ada kontrol efektif untuk itu.
Kedepan, badan regulasi tenaga nuklir akan lebih penting karena akan melakukan kontrol dan licensing.
Kita ulas saja pernyataan Prof. Dalimi terkait
nuklir di media tersebut.
1. Yakni PLTN akan mengharuskan Indonesia
mengimpor uranium, karena uranium Indonesia tidak ekonomis
Mayoritas industri nuklir (PLTN) menggunakan
bahan bakar uranium import, kecuali negara nuklir yang mempunyai sumber daya
uranium alam yang banyak dan teknologi pengayaannya seperti Amerika, Rusia dan
Kanada, Khusus Kanada, dengan teknologi CANDU, tidak perlu pengayaan. Jadi
sumber daya alam uranium di negara-negara yg tidak pakai PLTN jauh lebih banyak
seperti Australia, Kazakstan, Nigeria, dll. Terkait ekonomis, bukan faktor
uraniumnya, meskipun beberapa tipe kandungan uranium memberikan variasi harga,
tetapi karena nilai ekonomis kalau kita melakukan enrichment sendiri, kecuali
kedepan mau punya industri pengayaan sendiri dan daur ulang, nah itu lain hal.
Tapi kalau untuk operasional reaktor yg terbatas cukup dengan import masih
lebih murah. Pertanyaannya, bahan energi mana yang tidak import? minyak sudah
lama import, batu bara mungkin kedepannya akan import, renewable? teknologinya
dari mana bahan2nya? selain faktor ekonomis dan limbah proses olahannya?
2. Dunia tidak akan mengizinkan Indonesia
melakukan pengayaan uranium, karena Iran saja dilarang, meski pemerintahnya
melawan.
Pernyataan ini kurang lengkap dan tidak menyentuh
akan permasalah terkait pengayaan uranium untuk PLTN dan terkait non
proliferasi dan juga kasus Iran, Korea Utara, kemudian India dan Pakistan.
Teknologi pengayaan dan daur ulang tidak dilarang dan merupakan hak semua
negara, tetapi hanyak untuk tujuan damai dan sipil salah satunya PLTN. Jadi
aneh apabila pengayaan uranium untuk PLTN dianggap akan dilarang. LEU atau less
enriched uranium kurang dari 20% adalah legal digunakan untuk PLTN selain
adanya kontrol material dan monitoring dan inspeksi dari regulasi masing2
negara dan juga IAEA. Untuk Iran yang terjadi adanya distrust dan ketakutan
berlebih apabila teknologi penyaan dikuasai akan membuat bom, padahal statement
resminya tidak akan membuat dan beberapa inspeksi juga tidak ada bukti mengarah
kesana dan kalaupun bisa masih terlalu jauh untuk memproduksinya. Jadi
pembahasan tersendiri.
3. Alasan yang cukup berat adalah
Indonesia merupakan “kawasan gempa” sehingga risikonya tinggi. “Kalau pun
dibangun dengan tahan gempa, tentu biayanya akan mahal, sehingga harganya
nuklir juga tidak akan murah, bahkan perlu subsidi.”
Dari zaman generasi kedua khsusnya 1960an,
bangunan reaktor sudah diperhitungkan dampak gempa, bahkan juga dinding untuk
tsunami dan begitu pula sekarang dengan standar yg lebih tinggi. Khusus kasus
Fukushima daiichi unit 1 yg paling tua dibangun 1965, beroperasi 1971, sudah
memperhitungkan gempa dan direvisi kemudian dengan perkembangan gempa Chili
1995 kalau tidak salah yang besarnya 9.5 M dan tsunami kurang dari 6 meter. Dan
masih ekonomis. Akan sedikit lebih tinggi harga PLTN, apabila menghitung juga
liability atau efek dari kebocoran radiasi, dan itu juga masih bisa diprediksi
dengan kasus Fukushima ini berapa harga yang perlu dibayar untuk kejadian2
seperti itu. Negara-negara maju dan industri memilih nuklir karena murah,
sustainable dan non-CO2 emission. Untuk teknologi tahan gempa di Jepang sudah
bisa diprediksi dengan bagus dan kejadian Fukushima bukan karena faktor
gempanya tetapi faktor tsunami. Bahkan ketika gempa Kashiwazaki-kariwa di
Niigata, rasio besarnya gempa 2 kalinya dengan desain dasar tahan gempa PLTN
tersebut, tetapi mereka tetap merestart ulang dan bisa bertahan.
4. Alasan yang juga penting adalah Jepang
sudah mematikan 54 unit PLTN pada dua minggu lalu, lalu Jerman juga akan
mematikan seluruh PLTN-nya pada tahun 2025.
Kalau Jerman jelas terlalu banyak alasan politis
dan sekarang mulai terasa bagaimana sulitnya mengkonversi seperempat listriknya
dari nuklir dengan yang lain. Selain itu Jerman adalah salah satu negara
pengimpor gas, minyak dan batubara terbesar dunia. Kalau situasi politik
berubah, kondisi ekonomi berubah maka kebijakan akan berubah juga. Untuk
Jepang, kebijakan energi jangka panjang sedang dibuatkan. dan berita terbaru,
dari 17 reaktor yang sudah mengajukan uji stress test sudah 2 PLTN yang sudah
oke dan mendapat approval dari dewan kota. Dan lambat laun akan direstrat
kembali PLTN yang ada, karena sudah melewati regulasi safety dan pengecekan dan
izin dari daerah yang kemungkinan besar akan diikuti oleh yang lainnya.
Disamping itu, pabrik2 di Jepang juga sudah kekurangan energi listrik dan
sebagai penggantinya dengan menghidupkan kembali PLTU tua dengan import batu
bara dan menambah import gas untuk PLTG mereka yang tenbtunya harga listrik
naik (sekitar 17% Tepco) dan emisi CO2 yang bertambah sehingga program
pengurangan emisi rumah kaca jadi terkendala.
Alasan terakhir ini, masih debatable dan unpredictable secara pasti tapi masih bisa kita amati kecenderungannya. Tapi isu keempat ini akan berbeda dengan kecenderungan negara2 lainnya yang justru akan segera membangun PLTNnya
Alasan terakhir ini, masih debatable dan unpredictable secara pasti tapi masih bisa kita amati kecenderungannya. Tapi isu keempat ini akan berbeda dengan kecenderungan negara2 lainnya yang justru akan segera membangun PLTNnya
Sumber [http://medianuklir.wordpress.com/2012/05/17/energi-nuklir-untuk-indonesia-mungkinkah/]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar