Minggu, 01 April 2012

Tempramen BukanlahSuratan Takdir

Telah banyak yang dipelajari mengenai bagaimana mengubah pola emosi. Tetapi, bagaimana mengubah respons kita yang bersifat bawaan genetik, bagaimana mengubah reaksi yang sudah menjadikebiasaan seseorang yang secara kodrati. Misalnya sangat mudah marah atau amat pemalu? Semua petunjuk emosionalini masuk ke dalam kategori temperamen, bisikan perasaan yang menandai sikap dasar kita. Temperamen dapat dirumuskan sebagai suasana hati yang mencirikan kehidupan emosinal kita. Hingga tahap tertentu, kita masing-masing mempunyai kisaran emosi sendiri-sendiri, temperamen merupakan bawan sejak lahir bagian dari undian genetik yang mempunyai kekuatan hebat dalam bentang kehidupan ini. Setiap orang tua pernah menyaksikan ini, sejak lahir seorang anak bisa bersikap tenang dan tenteram ataupun sebaliknya, tak sabaran dan sulit di atur. Masalahnya adalah apakah setelan emosi yang telah ditentukan secara biologis semacam itu dapat di ubah oleh pengalaman? Bahkan bisakah seorang anak yang menurut bawaannya pemalu tumbuh menjadi orang dewasa yang lebih percaya diri?
Jawaban paling jelas terhadap pernyataan ini berasal dari Jerome Kagan, ahli psikologi perkembangan yang terkemuka di Harvard University. Kagan beranggapan bahwa sekurang-kurangnya ada empat jenis termperamen yaitu penakut, pemberani, periang dan pemurung. Masing-masing disebabkan oleh pola kegiatan otak ysng berbeda-beda. Ada kemungkinan terdapat perbedaan tak terbilang banyaknya dalam bakat temperamen, masing-masing didasarkan pada perbedaan bawaan dalam jaringan sirkuit emosi, untuk setiapnya emosi itu dipicu berapa lama berlangsungnya, seberapa intens jadinya. Karya Kagan memusatkan pada salah satu dari pola-pola ini yaitu dimensi temperamen pemberani hingga penakut.
Selama berpuluh-puluh tahun, para Ibu telah membawa bayi dan anak kecil mereka ke Laboratory for Child Development milik Kagan di lantai 14 Harvar’d William James Hall untuk ikut serta dalam penelitiannya tentang perkembangan anak. Di situlah Kagan dan rekan-rekan penelitinya mengamati tanda-tanda awal sikap malu-malu dalam sebuah kelompok anak kecil berumur dua puluh satu bulan yang dibawa untuk pengamatan eksperimen. Dalam permainan bebas dengan anak lain sejumlah anak sangat gembira dan spontan bermain dengan anak-anak lain tanpa sedikitpun ragu-ragu, tetapi sejumlah anak yang lain bingung dan ragu-ragu, mundur kembali menempel pada ibu mereka sambil diam dan mengamati anak yang lain bermain. Hampir empat tahun kemudian ketika anak-anak yang sama ini berada di taman kanak-kanak kelompok Kagan melakukan pengamatan lagi selama tahhun-tahun di antaranyatak satupun anak-anak yang bergaul itu menjadi penakut sementara dua pertigadari anak-anak yang penakut masih tetap pendiam.



Kagan menemukan bahwaanak-anak yang terlampau peka dan takut-takut akan tumbuh menjadi orang dewasa yang pemalu dan penakut, kurang dari 15 hingga 20 persen anak-anak itu sejak lahir “tingkah lakunya lambat” demikianlah ia menybut mereka. Sebagai bayi anak-anak ini takut pada aa saja yang belum dikenal. Ini membuat mereka rewel bila diberi makanan baru, enggan mendekati hewa-hewan atau tempat-tempat baru dan malu-malu berada di sekitar orang yang tidak dikenal. Sifat ini membuat mereka juga peka misalnya mudah merasa kalah dan menyalahkan diri sendiri. Inilah anak-anak yang dikalahkan oleh rasa cemas sehinggaa merasa tidak berdaya menghadapi situasi-situasi sosial di klub dan di tempat bermain, ketika bertemu orang-orang baru setiap kali lampu sorot sosial menimpa mereka. Sebagai orang dewasa mereka hanya menjadi pajangan dinding dan amat takut berpidato atau tampil didepan umum.
Tom, salah satu anak dalam penelitian Kagan itu adalah contoh jenis anak yang pemalu. Pada setiap penilaian sepanjang masa kanak-kanaknya umur dua tahun, lima tahun dan tujuh tahun Tom termasuk ke dalam kelompok anak-anak yang paling penakut. Ketika pada umur tiga belas tahun Tom di wawancarai, ia menjadi tegang dan kaku, menggigit bibirnya dan tangannya bergerak-gerak gelisah, wajahnya tidak menunjukkan ekspresi dan melemparkan senyum kaku hanya berbicara teman gadisnya  jawaban-jawabannya pendek dan gerak-geriknya lamban. Sepanjang masa petengahan kanak-kanaknya sampai kurang lebih umur sebelah tahun Tom ingat bahwa ia amat pemalu, keringatnya mengucur deras setiap kali harus mendekati teman-teman bermainnya. Ia juga diganggu perasaan-perasaan takut yang amat sangat, takut rumahnya terbakar, takut menyelam di kolam renang dan takut sendirian ddalam gelap. Dalam mimpi-mimpi buruknya yang berulang kali ia diserang oleh monster. Meskipun merasa sudah tidak terlalu malu selama kurang lebih dua tahun terakhir ini ia masih merasa sedikit cemas bila berada disekitar anak-anak lain, dan kecemasannya sekarang berpusat padabagaimana berprestasi baik di sekolah, meskipun ia termasuk dalam kelompok lima persen palin pintar di kelasnya. Sebagai anak seorang ilmuwanTom merasa karier di bidang itu menarik, sebab karier yang relatif tidak banyak berhubungan dengan orang-orang, itu cocok dengan kecenderungan introvert-nya.
Sebaliknya Ralph adalah salah satu anak yang paling pemberani dan suka bergaul dalam setiap usia perkembangannya. Pada umur tiga belas tahun ia selalu bersikap santai dan suka bicara duduk dengan santai di kursinya, tidak gugup dan berbicara dengan nada bersahabat dan penuh keyakinan, seolah-olah pewawancara itu adalah teman sebayanya. Meskipun beda usia mereka dua puluh lima tahun, selama masa kanak-kanaknya ia Cuma pernah punya rasa takut sebentar, salah satuya adalah takut pada anjing, setelah anjing besar melompat ke mukanya saat ia berusia tiga tahun, dan ketakutan lain adalah saat ia berusia tujuh tahun ketika mendengar ada pesawat terbabg jatuh. Ralph yang gemar bergaul da populer tak pernah menganggap dirinya pemalu.



Anak-anak yang penakut itu tampaknya masuk ke dalam kehidupan dengan sirkuit saraf yang membuat mereka lebih reaktif bahkan terhadap stres ringan, sejak lahir jantung mereka berdenyut lebih cepat daripada jantung bayi lain ketika merespons situasi yang ganjil ataupun baru. Pada umur dua puluh satu bulan katika anak-anak yang pendiam itu enggan bermain, monitor laju detak jantung mereka memperlihatkan bahwa jantung mereka berdebar-debar karena cemas. Rasa cemas yang gampang di picu itu agaknya mendasari rasa takut mereka seumur hidup, mereka memperlakukan setiap situasi atau orang baru sebagai ancaman potensial. Barangkali sebagai akibatnya kaum wanita setengah baya yang sewaktu kanak-kanak bersifat sangat pemalu dibandingkan dengan rekan sebaya mereka yang lebih mudah bergaul, cenderung menghadapi kehidupan dengan lebih banyak rassa takut, cems dan rasa bersalah serta lebih banyak menderita gangguan yang berkaitan dengan stres seperti sakit kepala, migran, iritasi usus da gangguan lambung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar