Selasa, 20 Maret 2012

KERUGIAN BUTA EMOSI




Semuanya berasal dari perang mulut kecil kecilan, namun kemudian memanas. Ian Moore siswa kelas terakhir di Thomas Jeffersin High School di Brooklyn, dan Taylor Sinkler siswa kelas dua, pernah berselisih dengan Khalil Sumter yang tak lain adalah sobat mereka sendiri yang berusia lima belas tahun. Sejak mereka mulai menjahili Khalil dan mengancamnya akhirnya pertengkaran itu meledak.Pada suatu pagi, karena khawatir Ian dan Taylor akan memukulinya, Khalil membawa sepucuk pistol kaliber 0.38 ke sekolah, dan lima meter dari seorang penjaga sekolah ia menembak Ian dan Taylor dari jarak dekat hingga tewas di lorong sekolah..
Peristiwa yang betul-betul mengerikan itu dapat dibaca sebagai pertanda amat dibutuhkannya pelajaran dalam menangani emosi, menyelesaikan pertengkaran secara damai dan bergaul biasa. Para pendidik yang biasanya mencemaskan nilai buruk anak-anak dalam bidang matematika dan membaca mulai menyadari bahwa ada kekurangan lain yang lebih mencemaskan yaitu “buta emosi”. Dan sementara u saha-usaha terpuji untuk meningkatkan standar akademis sedang di lakuka, kekurangan baru yang merisaukan ini belum di pertimbangkan dalam kurikulum sekolah yang baku. Seperti di kemukakan oleh salah seorang guru di Brooklyn, sekarang ini tekanan yang diberikan kepasa sekolah menyiratkan bahwa kita lebih prihatin pada seberapa baik kemampuan anak membaca dan menulis daripada apakah mereka masih akan hidup minggu depan.
Tanda-tanda kekurangan tersebut dapat terlihat pada peristiwa-peristiwa tindak kekerasan seperti penembakan atas Ian da Taylor, yang semakin lama dan semakin lazim sekolah di amerika namun ini lebih dari sekadar peristiwa-peristiwa terpisah, meningkatnya kekacauan masa remaja dan masalah anak-anak di Amerika Serikat yang menjadi tolak ukur kecenderungan dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar